RAJA AMPAT, Melanesiatimes.com – Pansus DPRK dibentuk untuk menjawab keresahan publik. Ketika ada persoalan genting, mulai dari sengketa lahan, dugaan penyimpangan anggaran, hingga konflik ruang laut, Pansus menjadi harapan. Ia diamanatkan sebagai alat untuk membongkar, mengawasi, dan memberi solusi.
Namun belakangan, kita menyaksikan Pansus DPRK Raja Ampat dua kali mati suri. Dibentuk dengan gegap gempita, diliput media, lalu hilang tanpa kabar. Rapat dengar pendapat ditunda. Pemanggilan pejabat mentok. Rekomendasi diduga tak pernah sampai ke meja sidang paripurna. Publik bertanya: Pansus ini hidup untuk siapa?
Inilah mengapa pesan menyematkan tagar RIP tepat untuk Pansus DPRK Raja Ampat. Rest in Peace, sebab fungsi pengawasan yang diharapkan justru tidur panjang. Yang tersisa hanya seremonial pembentukan dan foto bersama.
Ada tiga faktor utama yang diduga telah melatarbelakangi hal ini. Pertama, lemahnya komitmen. Pansus sering dipakai sebagai alat tawar menawar, bukan alat koreksi. Saat kompromi tercapai di balik meja, semangat mengusut ikut padam. Kedua, minimnya transparansi. Publik tidak tahu sejauh mana kerja Pansus, temuan pansus hanya jadi seremonial media sosial entah siapa yang bertanggung jawab. Ketiga, tak ada sanksi. Pansus yang gagal tidak pernah dievaluasi secara terbuka.
Tonton Juga Serial Pendek
👇👇👇
🖤Film Papua Sedih \"Menjemput Harapan\"🖤
Padahal DPRK dipilih untuk mewakili suara rakyat. Jika Pansus sebagai instrumen paling tajam saja tumpul, lalu apa yang tersisa dari fungsi kontrol dewan? Kepercayaan publik tidak runtuh dalam sehari. Ia terkikis setiap kali Pansus dibentuk lalu dikubur diam-diam.
Mestinya DPRK mampu menjaga dan menghidupkan kembali marwah Lembaga. Semua proses di buka secara transparan ke publik. Tetapkan target waktu yang jelas. Umumkan hasil, apapun itu. Jika memang tidak ada pelanggaran, katakan. Jika ada, rekomendasikan sanksi. Hanya dengan itu, Pansus tidak lagi jadi seremoni duka.
RIP Pansus DPRK seharusnya tidak menjadi epitaf permanen. Ia harus jadi pengingat bahwa pengawasan yang mati adalah awal dari matinya kepercayaan.