Melanesiatimes.com, Papua Pegunungan – Nipsan, Kabupaten Yahukimo, Papua, kini tengah menghadapi krisis kemanusiaan yang serius. Dalam dua bulan terakhir, delapan kepala kampung dan tiga belas jemaat di wilayah ini telah menjadi korban sakit, mengakibatkan 51 orang meninggal dunia, termasuk 32 orang dewasa dan 19 anak-anak.
Yurmin Yando, S.Fil, seorang intelektual dari Nipsan, menyampaikan data tragis ini pada wartawan saat wawancara, Kamis (15/05/2025).
“Kami sangat prihatin dengan kondisi masyarakat kami yang tengah berjuang menghadapi musibah ini,” ungkapnya.
Yurmin juga menjelaskan bahwa penyebab krisis ini perlu ditangani segera. “Kami menginginkan kolaborasi antara pusat kesehatan masyarakat dan semua elemen, termasuk tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah setempat, untuk meningkatkan layanan kesehatan,” tegasnya.
Saat ini, meski ada perbaikan di beberapa kampung, banyak warga yang masih dalam kondisi lemah akibat sakit yang telah mereka alami. Yurmin menekankan pentingnya memperkuat fasilitas medis agar masyarakat Nipsan tidak mengalami masalah serupa di masa depan.
Ia juga mendorong agar semua pihak, termasuk intelektual dan mahasiswa, dapat berkontribusi dalam menjaga nilai kemanusiaan yang sangat dibutuhkan saat ini. “Obat yang kami terima sudah habis, jadi kami harap Dinas Kesehatan Kabupaten Yahukimo dapat segera memprioritaskan tenaga medis,” jelas Yurmin.
Terlepas dari situasi yang sulit, Yurmin mengapresiasi bantuan obat yang telah diberikan dan berharap kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat Nipsan terus dioptimalkan. Dia menekankan perlunya langkah konkret dari pemerintah provinsi dan kabupaten untuk menjaga kesehatan masyarakat.
“Jika situasi ini diabaikan, kami khawatir masyarakat Nipsan akan terus mengalami penderitaan dan kehilangan,” tegasnya.
Dengan dukungan semua pihak, Yurmin berharap krisis ini dapat segera diatasi, dan masyarakat Nipsan dapat kembali ke kehidupan yang lebih baik. (Eskop Wisabla)