Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau, menegaskan bahwa prosesi wisuda bukan sekadar seremoni akademik, melainkan penanda keberhasilan sekaligus awal dari tanggung jawab besar para lulusan untuk mengabdi kepada masyarakat, bangsa, negara, dan kemanusiaan.
Pesan tersebut disampaikan Ahmad Nausrau dalam acara wisuda Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong yang berlangsung di Kampus IAIN Sorong, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Kamis (20/8/2026).
“Wisuda bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan, melainkan awal perjalanan pengabdian kepada masyarakat, bangsa, negara, dan kemanusiaan,” tegas Ahmad Nausrau dalam sambutannya.
Ia mengatakan, momentum wisuda tahun ini menjadi semakin bermakna karena berdekatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Menurutnya, kemerdekaan bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih maju, adil, dan bermartabat.
Ahmad Nausrau menilai, salah satu cara paling fundamental untuk mengisi kemerdekaan adalah melalui pendidikan berkualitas. Tanpa pendidikan yang baik, kata dia, kemerdekaan akan sulit diterjemahkan menjadi kesejahteraan, sementara kekayaan alam tidak secara otomatis menjadi kekuatan pembangunan tanpa didukung sumber daya manusia yang unggul.
“Papua Barat Daya memiliki kekayaan alam, laut, hutan, budaya, pariwisata, serta keragaman masyarakat yang luar biasa. Namun, kekayaan terbesar Papua Barat Daya sesungguhnya adalah manusianya,” ujarnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya investasi terhadap sumber daya manusia. Pendidikan tinggi dinilai memiliki posisi strategis dalam membentuk manusia yang berpengetahuan, berkarakter, kompeten, serta mampu menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat.
Dalam konteks tersebut, Ahmad Nausrau menyebut keberadaan IAIN Sorong memiliki arti penting bagi masa depan Papua Barat Daya. Ia menyambut baik visi IAIN Sorong untuk menjadi perguruan tinggi yang unggul, moderat, berwawasan global, kreatif, dan berbasis local wisdom atau kearifan lokal.
Menurutnya, visi tersebut sangat relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah. Keunggulan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari kualitas pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan lulusannya, tetapi juga dari kemampuan kampus membangun ruang akademik yang menghargai perbedaan dan memperkuat kehidupan sosial yang harmonis.
“Moderasi berarti menjadikan perguruan tinggi sebagai ruang yang menghargai perbedaan, memperkuat toleransi, dan membangun kehidupan sosial yang harmonis,” katanya.
Ahmad Nausrau juga mendorong IAIN Sorong untuk melahirkan generasi yang memiliki akar kuat pada nilai dan budaya lokal, namun tetap memiliki wawasan global. Menurutnya, kemajuan tidak boleh membuat generasi muda kehilangan identitas dan kearifan lokal Papua.
Ia menilai, pendidikan berbasis kearifan lokal harus mampu menjadikan budaya dan pengetahuan masyarakat sebagai sumber pengetahuan, identitas, sekaligus kekuatan dalam membangun masa depan daerah.
Di sisi lain, perguruan tinggi juga dituntut kreatif dalam melahirkan gagasan, inovasi, serta solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat. Lulusan perguruan tinggi di Papua Barat Daya diharapkan mampu bersaing secara nasional maupun internasional dengan tetap berpegang teguh pada identitas dan nilai-nilai lokal.
Ahmad Nausrau juga menyoroti pentingnya pendidikan tinggi yang inklusif di tengah keberagaman Papua Barat Daya. Menurutnya, daerah ini merupakan ruang perjumpaan berbagai suku, agama, bahasa, budaya, dan tradisi sehingga kampus harus menjadi kekuatan untuk membangun persaudaraan dan perdamaian, bukan menjadi sumber perpecahan.
“Papua Barat Daya adalah ruang keberagaman. Karena itu, kita membutuhkan kampus tanpa sekat suku, agama, bahasa, budaya, dan tradisi,” tuturnya.
Ia pun mendorong perluasan akses pendidikan hingga ke wilayah-wilayah terpencil. Jarak geografis, kata Ahmad, tidak boleh berubah menjadi jarak kesempatan bagi anak-anak Papua Barat Daya untuk memperoleh pendidikan berkualitas.
Menurutnya, teknologi digital, pembelajaran jarak jauh, pengabdian kepada masyarakat, kemitraan dengan pemerintah daerah, serta berbagai inovasi pendidikan perlu dimanfaatkan untuk mendekatkan pendidikan kepada masyarakat.
“Kita harus membangun paradigma baru, bukan hanya masyarakat yang datang mencari pendidikan, tetapi pendidikan yang hadir mendekati masyarakat,” tegasnya.
Selain akses, Ahmad Nausrau menilai peningkatan mutu dan profesionalisme sumber daya manusia di bidang pendidikan juga menjadi kebutuhan penting Papua Barat Daya. Daerah membutuhkan guru berkualitas, dosen produktif, peneliti inovatif, birokrat profesional, pengusaha kreatif, serta pemimpin yang memiliki integritas.
Ia menegaskan, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan gelar akademik. Kampus harus mampu melahirkan manusia yang berpikir kritis, mampu menyelesaikan masalah, beradaptasi terhadap perubahan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ahmad Nausrau juga berharap semakin banyak penelitian mengenai Papua lahir dari perguruan tinggi yang berada di Papua sendiri. Berbagai persoalan masyarakat, menurutnya, perlu dikaji melalui pendekatan ilmiah dengan tetap menghormati pengalaman, pengetahuan, dan kearifan masyarakat lokal.
“Dengan demikian, kampus bukan hanya menjadi tempat menerima pengetahuan, tetapi juga tempat memproduksi pengetahuan tentang Papua dan untuk Papua,” ujarnya.
Terkait cita-cita transformasi IAIN Sorong menuju universitas, Ahmad Nausrau menilai langkah tersebut merupakan bagian penting dari masa depan pendidikan tinggi di Papua Barat Daya. Namun, transformasi tersebut tidak boleh hanya dimaknai sebagai perubahan status kelembagaan.
Menurutnya, transformasi harus menjadi momentum untuk meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan ilmu pengetahuan, kualitas sumber daya manusia, kerja sama akademik, serta kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan daerah.
Dalam wisuda tersebut, sebanyak 166 mahasiswa IAIN Sorong resmi menyandang gelar akademik. Mereka terdiri dari 72 lulusan Fakultas Tarbiyah, 74 lulusan Fakultas Syariah dan Dakwah, serta 18 lulusan program Pascasarjana.
Ahmad Nausrau berharap para lulusan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi mampu membawa ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama menempuh pendidikan untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan Papua Barat Daya.