Melanesiatimes.com, Kota Sorong — Insiden mobil trailer milik ekspedisi PT Wehuri yang menabrak kabel listrik di Jalan Ahmad Yani, tepat di depan Hansen, Kota Sorong, Papua Barat Daya, pada Kamis (20/8/2026), kembali menjadi sorotan. Peristiwa tersebut menyebabkan kabel listrik putus dan seorang pengendara menjadi korban luka ringan.
Pihak Manajemen PT. Wehuri menilai posisi kabel yang melintas di ruas jalan tersebut perlu ditata dan ditinggikan agar tidak mengganggu kendaraan dengan muatan atau peralatan berukuran besar yang melintas.
Dari kejadian tersebut Rama selaku salah satu, pihak manajemen ekspedisi PT. Wehuri, mengatakan kondisi kabel yang melintas cukup rendah sehingga berpotensi mengganggu kendaraan pengangkut alat berat. Menurutnya, Kota Sorong saat ini terus berkembang dan semakin banyak kendaraan berukuran besar yang melintas di sejumlah ruas jalan.
“Saya salahkan kabel yang melintas, karena seharusnya dari PLN itu tiangnya dikasih tinggi, Sorong ini Kota Transformasi, harusnya mereka tau sudah ada unit-unit besar seperti ini harus ditinggikan kabel itu,” ujar Rama
Ia juga menyampaikan jangan samakan unit A dengan unit B, sorong ini kota Traformasi sehingga kabelnya harus di tinggikan biar tidak mengganggu alat-alat berat seperti ini.
Awak media Melanesiatimes.com juga telah menulusuri kejadian ini secara langsung, bahwa terdapat kelalaian dari pihak PT. Wehuri yang tidak menempatkan dua orang helper di belakang agar dapat mengantisipasi kejadian seperti ini.
Dua orang helper tersebut duduk bersama sopir di depan, sehingga tidak ada yang mengawasi kabel lintasan di sepanjang jalan, akibatnya Trailer tersebut menabrak kabel hingga putus dan berdampak pada 5 kendaraan roda dua dan satu pengendara jatuh dan mengalami luka ringan.
Sementara itu, pihak PLN melalui Ridwan yang ditemui di lokasi kejadian meminta persoalan tersebut tidak langsung disalahkan kepada satu pihak. Ia mengatakan kendaraan kontainer maupun kendaraan ekspedisi lainnya juga rutin melintasi ruas jalan tersebut.
“Kita tidak bisa menyalahkan berbagai pihak, karena yang lewat juga banyak, termasuk mobil kontainer dan ekspedisi. Kalau kabel itu rendah, tentu mobil-mobil yang lain juga bisa mengalami hal yang sama,” kata Ridwan.
Ridwan Petugas PLN yang turun di lokasi Kejadian.
Menurut Ridwan, PLN sebelumnya telah menyampaikan kepada pihak ekspedisi maupun pengangkut kontainer agar setiap kendaraan yang membawa muatan tinggi dilengkapi helper yang berada di bagian belakang kendaraan. Helper tersebut bertugas mengantisipasi kabel yang melintas dengan menggunakan kayu atau bambu ketika kendaraan melewati ruas jalan yang memiliki jaringan kabel.
“Kita juga sudah sosialisasikan agar setiap mobil kontainer atau mobil ekspedisi, kalau bisa diamankan dengan adanya helper di belakang. Kabel itu berat, sehingga kita tidak tahu kapan kabel bisa melorot. Kalau ada helper yang mengamankan kabel di belakang, kejadian seperti ini bisa dicegah,” jelasnya.
Ridwan menambahkan, benturan keras antara bagian kendaraan dengan kabel diduga menjadi salah satu faktor kabel tersebut putus dan jatuh. Menurutnya, apabila kendaraan melintas secara perlahan dan dilakukan pengamanan terhadap kabel, risiko kejadian serupa dapat diminimalkan.
Ia juga mengimbau kepada perusahaan ekspedisi maupun pihak yang rutin mengangkut mesin atau alat berat untuk segera melaporkan kepada PLN apabila menemukan kabel yang posisinya terlalu rendah.
“Kami sampaikan kepada rekanan ekspedisi atau kontainer, jika ada kabel yang rendah, mohon beritahu kami. Kami tetap akan menata dan tidak akan membiarkan hal itu terulang. Kami juga tidak ingin menghalangi lalu lintas pengguna jalan lainnya,” ujarnya.
Ridwan mengatakan kendaraan pengangkut mesin berat memang tidak setiap hari melintas, namun frekuensinya bisa mencapai dua hingga tiga kali dalam sepekan. Karena itu, koordinasi antara PLN dan pihak ekspedisi dinilai penting untuk mencegah terjadinya kecelakaan maupun korban lainnya.
“Intinya perlu ada helper sehingga bisa mengamankan kabel. Kami khawatir kejadian seperti ini kembali terjadi dan mencelakai orang lain,” katanya.
Dalam kejadian tersebut, diketahui dua helper yang ikut dalam perjalanan tidak berada di bagian belakang kendaraan, melainkan duduk bersama sopir di bagian depan. Setelah insiden terjadi, pihak manajemen kemudian meminta kedua helper tersebut berada di bagian belakang kendaraan sebelum perjalanan kembali dilanjutkan menuju Petro C.
Insiden ini menjadi perhatian bersama karena selain mengganggu jaringan listrik dan arus lalu lintas, kabel yang putus dan jatuh ke badan jalan juga berpotensi membahayakan pengguna jalan lainnya. Koordinasi antara PLN, perusahaan ekspedisi dan pengemudi kendaraan berdimensi besar dan dinilai penting untuk memastikan perjalanan kendaraan berat tetap aman tanpa mengganggu jaringan utilitas di sepanjang jalan.