Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Evaluasi ulang status UNESCO Global Geopark Raja Ampat memasuki tahap akhir. Tim evaluator UNESCO melakukan serangkaian peninjauan lapangan untuk melihat secara langsung perkembangan, pengelolaan, serta keberlanjutan Geopark Raja Ampat setelah meraih predikat UNESCO Global Geopark pada 2023.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat sekaligus Manajer Geopark Raja Ampat, Kalansina Rumbekwan, mengatakan agenda evaluasi ditutup dengan peninjauan di kawasan Patung Kristus Memberkati, Sagawin, sebelum tim evaluator melanjutkan perjalanan ke Jefman dan kembali ke Kota Sorong.
“Agenda hari ini merupakan tinjauan akhir dari penilai di Patung Kristus Memberkati di Sagawin. Sebelumnya mereka telah melakukan serangkaian peninjauan dan evaluasi di Misool, karena inti penilaian memang berada di Misool,” kata Kalansina saat ditemui di Vega Prime Hotel, Kota Sorong, Jumat (21/8/2026) malam.
Menurutnya, evaluasi tidak hanya menyangkut keberadaan kawasan geopark secara fisik, tetapi juga menitikberatkan pada aspek administrasi, tata kelola, pelestarian tradisi, pendidikan, serta dampak keberadaan Geopark Raja Ampat terhadap masyarakat di sekitarnya.
“Mereka memeriksa bagaimana Raja Ampat memelihara dan mengatur geopark, bagaimana tradisi dijaga, bagaimana keberadaan geopark berdampak bagi masyarakat, termasuk bagi pendidikan dan pelestarian tradisi,” ujarnya.
Kalansina menjelaskan, tim evaluator tiba di Raja Ampat pada 18 Agustus 2026. Setibanya di Waisai, mereka bertemu dengan Bupati Raja Ampat bersama sejumlah perangkat daerah terkait sebelum melakukan peninjauan ke Pusat Informasi Geopark dan sekolah Yayasan Cahaya Anak Papua.
Selanjutnya, tim evaluator menginap di Raja Ampat Dev Lodge sebelum pada 19 Agustus melanjutkan perjalanan menuju Misool untuk melakukan evaluasi langsung di sejumlah lokasi yang menjadi bagian penting dari kawasan Geopark Raja Ampat.
Dalam rangkaian evaluasi tersebut, turut hadir sejumlah pihak yang mendukung proses validasi Geopark Raja Ampat. Di antaranya dua perwakilan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Musani dan Denda satu perwakilan Bappenas Alief, serta perwakilan PSG Bandung Fajar.
Selain itu, hadir pula dua evaluator UNESCO, yakni Nina Atsuko dari Jepang dan Chen Fang dari China. Rangkaian kegiatan juga melibatkan Rektor Universitas Pendidikan Muhammadiyah (Unimuda) Sorong dan Rektor Universitas Muhammadiyah Sorong (Unamin) sebagai bagian dari unsur yang berkaitan dengan pendidikan dan pengembangan Geopark Raja Ampat.
Kalansina berharap seluruh upaya pemerintah daerah dan masyarakat dalam menjaga serta mengembangkan Geopark Raja Ampat mendapatkan apresiasi positif dari tim evaluator.
“Kami mengharapkan upaya menjaga Raja Ampat melalui Geopark Raja Ampat diapresiasi dengan evaluasi yang positif. Mereka sudah menyaksikan langsung bagaimana kami bekerja, bagaimana kami bekerja sama, dan bagaimana kami membangun kemitraan,” katanya.
Meski demikian, Kalansina menegaskan keputusan akhir mengenai status Geopark Raja Ampat bukan berada di tangan tim evaluator yang melakukan kunjungan lapangan. Hasil evaluasi nantinya akan menjadi bahan pertimbangan dalam sidang Dewan UNESCO yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026.
“Keputusan final sebenarnya bukan di tangan mereka, melainkan pada sidang Dewan UNESCO bulan November. Dari sidang tersebut baru ditentukan status Geopark Raja Ampat, apakah tetap mendapatkan kartu hijau, turun ke kuning, atau bahkan merah,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pariwisata Raja Ampat, Muhammad Hanif Macap, mengatakan misi evaluasi kali ini menjadi momentum penting untuk menguji sejauh mana komitmen Raja Ampat mempertahankan predikat UNESCO Global Geopark yang telah diraih.
Menurutnya, evaluator tidak sekadar melihat apakah Raja Ampat masih memiliki predikat UNESCO, tetapi juga menilai apakah selama empat tahun terakhir terdapat upaya berkelanjutan, inovasi, serta perbaikan dalam pengelolaan kawasan geopark.
“Misi kali ini agak unik. Yang diperiksa adalah bagaimana perbaikan yang telah kita terapkan setelah meraih UNESCO. Proses ini untuk menguji, meninjau dan mengukur apakah kita hanya memiliki gelar saja atau ada usaha berkelanjutan selama memegang status tersebut,” kata Hanif.
Ia menjelaskan, Geopark Raja Ampat memperoleh predikat UNESCO Global Geopark pada 2023 dan harus menjalani evaluasi ulang secara berkala. Evaluasi tersebut bertujuan memastikan status yang diberikan tetap layak dipertahankan berdasarkan perkembangan, inovasi, pengelolaan dan keberlanjutan program.
“Intinya, ini adalah ujian sesungguhnya yang akan mereka pertimbangkan. Mereka melihat apakah ada inovasi yang signifikan, apakah ada perbaikan, atau justru terjadi kemunduran,” ujarnya.
Hanif menambahkan, dalam proses evaluasi, tim juga memeriksa sejumlah hal yang sebelumnya dinyatakan telah diselesaikan oleh pengelola Geopark Raja Ampat. Setiap klaim perbaikan akan diverifikasi melalui data dan bukti di lapangan.
“Mereka akan meninjau apa yang kita nyatakan telah diselesaikan. Mereka akan menilai dan memeriksa datanya, buktinya, sekaligus mengecek apakah masih ada aspek yang belum tuntas,” katanya.
Selain memberikan penilaian, lanjut Hanif, hasil evaluasi juga dapat menjadi dasar rekomendasi untuk perbaikan pada periode berikutnya. Dengan demikian, proses validasi UNESCO tidak semata-mata menjadi penentu status, tetapi juga bagian dari upaya pendampingan agar pengelolaan geopark terus berkembang.
Kini seluruh perhatian tertuju pada hasil sidang Dewan UNESCO pada November mendatang. Pemerintah Kabupaten Raja Ampat berharap seluruh kerja keras menjaga kawasan, melestarikan tradisi, meningkatkan pendidikan, serta melibatkan masyarakat dapat mengantarkan Geopark Raja Ampat kembali mempertahankan “kartu hijau” UNESCO.