Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Kericuhan yang terjadi saat pembukaan blokade jalan di Kota Sorong, Papua Barat Daya, pada Kamis (21/5/2026) malam hingga Jumat (22/5/2026) dini hari mengakibatkan dua wartawan mengalami luka saat menjalankan tugas peliputan.
Situasi mencekam terjadi setelah aparat keamanan berupaya membubarkan aksi blokade yang dilakukan ratusan massa di sejumlah ruas jalan utama kota.
Aksi massa tersebut dipicu protes pasca pemutaran film “Pesta Babi” dan demonstrasi warga Papua yang menolak Proyek Strategis Nasional (PSN). Dalam aksi itu, massa juga menyuarakan tuntutan politik terkait pemisahan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Aksi kemudian berkembang menjadi pemblokiran jalan di lima titik utama Kota Sorong. Lokasi yang diblokade meliputi Kompleks Sorpus di Jalan Jenderal Ahmad Yani, tikungan Kantor RRI Sorong, depan Kantor PLN, depan Kompleks Pertokoan Yohan, serta kawasan Pasar Jembatan Puri di Jalan Jenderal Sudirman.
Situasi mulai memanas ketika aparat kepolisian melakukan upaya pembukaan blokade. Massa melakukan perlawanan dengan melempari petugas menggunakan batu, kayu, botol, hingga bom molotov. Sejumlah personel kepolisian dilaporkan terkena lemparan saat melakukan pengamanan di lapangan.
Dua wartawan menjadi korban lemparan batu saat meliput aksi yang berlangsung di Kompleks Sorpus, Kota Sorong. Insiden tersebut terjadi ketika situasi di lokasi aksi mulai memanas dan massa terlibat saling lempar dengan aparat keamanan yang melakukan pengamanan di area tersebut.
Kedua jurnalis yang berada di lapangan untuk menjalankan tugas peliputan terkena lemparan batu di tengah kericuhan yang pecah secara tiba-tiba. Meski mengalami luka, kedua wartawan dilaporkan dalam kondisi sadar dan langsung mendapatkan penanganan medis.
Insiden ini kembali menjadi perhatian terkait pentingnya perlindungan terhadap jurnalis saat menjalankan tugas peliputan di lapangan, terutama dalam situasi aksi massa yang berpotensi menimbulkan kericuhan.
Selain menyebabkan korban luka, kericuhan juga mengakibatkan sejumlah kendaraan roda empat mengalami kerusakan akibat lemparan massa. Aparat keamanan pun memperkuat penjagaan di sejumlah titik rawan guna mencegah kerusuhan meluas.
Tonton Juga Serial Pendek
👇👇👇
🖤Lagu Viral Pesta Babi**🖤
Kapolresta Sorong Kota, Amry Siahaan, bersama personel di lapangan bahkan nyaris terkena lemparan molotov saat berada di sekitar lokasi kericuhan di Kompleks Sorpus.
Untuk mengendalikan situasi, aparat gabungan dari Brimob Polda Papua Barat Daya, Polresta Sorong Kota, dan polsek jajaran diterjunkan ke lokasi. Polisi beberapa kali melepaskan tembakan peringatan serta gas air mata setelah massa terus melakukan pelemparan terhadap petugas.
Kapolresta Sorong Kota Kombes Pol Amry Siahaan menyatakan situasi Kota Sorong telah berhasil dikendalikan pada Jumat dini hari. “Saat ini situasi sudah dapat dikendalikan dan kami terus meningkatkan patroli guna mencegah gangguan keamanan susulan,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi yang dapat memperkeruh situasi keamanan di Kota Sorong.
Sementara itu, Kabag Ops Polresta Sorong Kota, Muhammad Andi Nurul Yaqin, mengatakan pihak kepolisian melakukan konsolidasi di Mako Polresta Sorong Kota usai pembukaan blokade jalan.
“Konsolidasi dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan adanya pergerakan massa pada Jumat pagi,” kata Andi Nurul Yaqin.
Dalam penanganan kericuhan tersebut, polisi turut mengamankan empat orang yang diduga terlibat dalam aksi kerusuhan. Keempatnya saat ini masih menjalani pemeriksaan guna mendalami peran masing-masing.
Kericuhan di Kota Sorong menjadi perhatian serius aparat keamanan karena melibatkan aksi blokade jalan, penyerangan terhadap petugas, kerusakan kendaraan, hingga jatuhnya korban luka dari kalangan jurnalis. Polisi menegaskan pengamanan akan terus dilakukan hingga situasi benar-benar aman dan kondusif.