Melanesiatimes.com, Masohi Maluku Tengah – Korem 151/Binaiya memperkuat kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana alam yang dapat terjadi di wilayah Maluku. Upaya tersebut dilakukan melalui apel gelar pasukan dalam rangka latihan kesiapsiagaan penanggulangan bencana di Lapangan Nusantara, Kota Masohi, Senin (24/8/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 250 personel yang terdiri atas Komandan dan Staf Korem 151/Binaiya serta personel Satgas PRC PB. Apel ini menjadi bagian dari persiapan satuan dalam menghadapi berbagai kemungkinan bencana, sekaligus meningkatkan kemampuan personel dalam memberikan bantuan penanggulangan bencana secara cepat dan terkoordinasi.
Inspektur Kodam (Irdam) XV/Pattimura Brigjen TNI Muhammad Ali, yang membacakan amanat Pangdam XV/Pattimura, mengatakan Korem sebagai komando kewilayahan dituntut memiliki kemampuan deteksi dini, kesiapsiagaan, serta kemampuan bertindak cepat dan tepat dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman, termasuk bencana alam.
“Karena Korem sebagai komando kewilayahan dituntut memiliki kemampuan deteksi, kesiapsiagaan, serta aksi cepat dan tepat dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman, termasuk bencana alam,” kata Muhammad Ali saat membacakan amanat Pangdam.
Menurutnya, kemampuan tersebut tidak dapat dibangun secara instan, tetapi harus dipersiapkan melalui latihan yang terencana, terukur, realistis, dan berkesinambungan.
“Latihan yang dilaksanakan merupakan bagian penting dalam membangun kesiapan operasional satuan, sekaligus untuk memastikan setiap prajurit memahami tugas, tanggung jawab, mekanisme koordinasi, dan prosedur dalam melaksanakan operasi bantuan penanggulangan bencana alam,” ujarnya.
Ia menegaskan, kesiapsiagaan menghadapi bencana harus menjadi budaya di lingkungan satuan dan tidak hanya dilakukan ketika bencana telah terjadi.
“Oleh karena itu, kesiapsiagaan harus menjadi budaya satuan, bukan hanya dilakukan ketika bencana telah terjadi,” tegasnya.
Pangdam juga mengingatkan seluruh jajaran TNI untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca pada musim barat yang diperkirakan berlangsung mulai September hingga Desember 2026. Periode tersebut berpotensi meningkatkan ancaman bencana hidrometeorologi di wilayah kepulauan Maluku.
“Sebab di bulan-bulan itu ada potensi terjadinya berbagai bencana hidrometeorologi di wilayah kepulauan Maluku, seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, gelombang tinggi, maupun bencana lainnya,” ungkapnya.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, seluruh jajaran TNI diharapkan mampu bergerak secara cepat, tepat, terpadu, dan terkoordinasi dengan melibatkan seluruh unsur terkait di wilayah.
“Penanggulangan bencana tidak hanya membutuhkan kekuatan dan kemampuan prajurit, tetapi juga membutuhkan kesamaan pola tindak, kecepatan pengambilan keputusan, kemampuan komunikasi, koordinasi lintas sektor, serta ketepatan dalam menentukan prioritas penanganan korban dan dampak dari bencana,” jelas Pangdam.
Dengan melibatkan sekitar 250 personel, Pangdam berharap seluruh peserta dapat mengikuti latihan secara serius, disiplin, dan bertanggung jawab. Latihan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesiapan personel sekaligus memperkuat koordinasi antarinstansi ketika terjadi bencana.
“Dengan kekuatan sekitar 250 personel yang terdiri atas Komandan dan Staf Korem 151/Binaiya serta personel Satgas PRC PB, saya berharap para peserta dapat mengikuti latihan dengan sungguh-sungguh, disiplin, dan bertanggung jawab,” katanya.
Ia menekankan, penanggulangan bencana membutuhkan kerja bersama dan sinergi lintas instansi. Koordinasi yang kuat dinilai menjadi kunci agar respons terhadap bencana dapat dilakukan secara cepat dan terarah, khususnya dalam menyelamatkan masyarakat serta meminimalkan dampak yang ditimbulkan.
Apel gelar pasukan tersebut turut dihadiri Danrem 151/Binaiya Brigjen TNI Rafli Manurung, Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Maluku Tengah Zahlul Ikhsan, sejumlah pimpinan OPD, Kapolres Maluku Tengah, Dandim 1502/Masohi, BPBD dan BNPB, Basarnas, serta unsur TNI dan instansi terkait lainnya. (HUAT)