Melanesiatimes.com, Kota Sorong — Upaya menjaga pesisir dan laut Papua Barat Daya tidak cukup hanya dilakukan di lapangan. Cerita, pengalaman, serta dampak dari kerja-kerja konservasi juga perlu disampaikan kepada publik melalui dokumentasi dan komunikasi yang kuat. Senin (23/8/2026).
Kemampuan mengubah pengalaman di lapangan menjadi cerita visual dan tulisan yang menarik menjadi kebutuhan penting bagi organisasi masyarakat sipil (OMS). Hal ini diperlukan untuk memperkuat advokasi, memperluas dukungan publik, sekaligus menunjukkan dampak nyata dari berbagai upaya konservasi.
Kebutuhan tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan penguatan kapasitas komunikasi bagi OMS di Papua Barat Daya. Sebanyak 28 perwakilan OMS yang bergerak di bidang pesisir dan laut mengikuti pelatihan videografi, fotografi, serta penulisan siaran pers yang diselenggarakan Dinamika Alam Nusantara (DIANTARA) bekerja sama dengan Starling Resources pada 19–21 Agustus 2026 di Pendopo Yayasan Satu Harapan, Sorong.
Bagi organisasi yang bekerja langsung bersama masyarakat, dokumentasi bukan sekadar menjadi arsip kegiatan. Foto, video, dan tulisan dapat menjadi sarana untuk memperlihatkan proses, menyampaikan pembelajaran, mengangkat suara masyarakat, serta menunjukkan perubahan yang lahir dari berbagai upaya pengelolaan pesisir dan laut.
Di tengah semakin luasnya penggunaan media sosial, website, video, dan media massa, tantangan OMS kini bukan lagi sekadar memiliki saluran komunikasi. Tantangan utamanya adalah bagaimana menghasilkan konten yang memiliki nilai cerita, menarik secara visual, serta memenuhi standar publikasi.
Dalam dokumentasi visual, sejumlah tantangan yang masih sering ditemukan antara lain objek utama yang kurang jelas, komposisi dan framing yang belum tepat, minimnya variasi footage, hingga kurangnya kemampuan menangkap momen penting.
Persoalan serupa juga ditemukan dalam penyusunan siaran pers, khususnya dalam mengolah fakta dan informasi lapangan menjadi narasi yang ringkas, relevan, dan menarik.
Direktur DIANTARA, Rens Lawarrissa, mengatakan penguatan kapasitas komunikasi penting untuk memastikan kerja-kerja konservasi OMS dapat diketahui masyarakat secara lebih luas.
“Kerja-kerja di lapangan sebenarnya memiliki banyak cerita penting. Sayangnya, cerita tersebut belum terkelola untuk dapat disampaikan lebih luas sebagai pembelajaran maupun alat advokasi. Karena itu, kami ingin peserta tidak hanya belajar mengambil foto atau video, tetapi juga memahami bagaimana membangun cerita dari apa yang mereka temukan di lapangan,” ujar Rens.
Senada, konsultan Starling Resources, Junita Manuputty, menilai kemampuan komunikasi menjadi bagian penting dalam memperbesar dampak kerja OMS.
“Kemampuan mendokumentasikan, mengolah, dan menyampaikan pengalaman dari lapangan secara sederhana dan menarik dapat membantu organisasi memperluas jangkauan pesan, memperkuat advokasi, serta membangun dukungan yang lebih luas terhadap isu-isu pesisir dan laut,” kata Junita.
Menurutnya, penguatan kapasitas komunikasi juga penting agar pengetahuan dan praktik baik yang telah dilakukan OMS tidak berhenti sebagai dokumentasi internal, tetapi dapat menjadi pembelajaran yang bermanfaat bagi masyarakat, mitra, maupun publik.
Sementara itu, Kepala BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Kepulauan Raja Ampat, Hasan Makassar, yang mengutus perwakilan BLUD sebagai peserta, menilai kemampuan dokumentasi merupakan keterampilan penting dalam pengelolaan kawasan konservasi.
“Bagi kami, pendokumentasian informasi dan cerita merupakan bagian penting dari pengelolaan kawasan konservasi. Pengolahan informasi dalam bentuk foto, video, dan cerita merupakan salah satu rekaman untuk evaluasi, bahkan menjadi alat edukasi bagi masyarakat, mitra, dan publik luas,” ungkap Hasan.
Hal senada disampaikan Koordinator Program Yayasan Bumi Papua Lestari (YBPL), Hofni Wabia. Ia mengaku kegiatan tersebut memberikan perspektif baru mengenai fungsi dokumentasi bagi organisasi.
“Dari sini kami belajar bahwa dokumentasi juga dapat menjadi media untuk menyampaikan visi organisasi, memperluas jangkauan pesan, dan menunjukkan dampak dari kerja yang kami lakukan,” tutur Hofni.
Selama kegiatan, para peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga melakukan praktik fotografi dan videografi. Materi yang diberikan meliputi komposisi, framing, camera movement, audio, visual storytelling, penyusunan sequence, hingga editing dasar menggunakan perangkat mobile.
Peserta juga dibekali kemampuan mengolah informasi dari lapangan menjadi siaran pers berdasarkan fakta dan data sehingga dapat digunakan untuk kebutuhan publikasi.
Melalui peningkatan kapasitas tersebut, OMS diharapkan mampu memperkuat suara masyarakat, memperluas pembelajaran dari lapangan, serta membangun dukungan publik yang lebih luas terhadap upaya menjaga pesisir dan laut Papua Barat Daya.
Tentang DIANTARA
Dinamika Alam Nusantara (DIANTARA) merupakan organisasi yang berfokus pada pengembangan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di Papua Barat Daya. DIANTARA berupaya memperkuat pengetahuan, kesadaran, dan perilaku peduli lingkungan melalui pengembangan modul pembelajaran, bahan ajar, media edukasi, pelatihan fasilitator, serta pendampingan program pendidikan lingkungan di sekolah dan masyarakat.
Tim DIANTARA memiliki pengalaman melaksanakan program PLH di Sorong, Tambrauw, Raja Ampat, Fakfak, dan Kaimana dengan pendekatan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, kearifan lokal, serta konteks ekologis Papua.
Ke depan, DIANTARA diarahkan untuk berkembang sebagai organisasi rujukan dan pusat pengembangan PLH di Papua yang berkomitmen melahirkan edukator dan fasilitator lingkungan yang kompeten sekaligus mendukung lahirnya generasi penjaga alam Papua.