RAJA AMPAT, MELANESIATIMES.COM — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi sekitar 7–10 kilometer dari Markas Polres Raja Ampat berhasil dipadamkan oleh tim gabungan TNI-Polri bersama sejumlah instansi terkait.
Kebakaran yang diperkirakan telah berlangsung selama kurang lebih dua pekan tersebut sempat meluas karena lokasi berada di area yang jauh, luas, berbukit, dan berada di ketinggian, sehingga menyulitkan proses pemadaman.
AIPDA Lukman, Paur Subbag Dalops Bag Ops Polres Raja Ampat yang juga menjabat sebagai Koordinator Lapangan Satgas Penanganan Karhutla, mengatakan bahwa penanganan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan personel dari berbagai unsur.
“Penanganan dilakukan oleh tim gabungan. Sekitar 100 personel batalyon turut dikerahkan bersama unsur Polres, Brimob, Polairud, Basarnas, Satpol PP, dan Posko Induk PBD,” ujar Lukman.
Menurutnya, berdasarkan estimasi visual di lapangan, luas kawasan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 20-30 hektare.
Lukman menjelaskan bahwa seluruh titik api di bagian pinggir kawasan yang berdekatan dengan vegetasi hutan alam telah berhasil dipadamkan. Sementara itu, bagian tengah kawasan juga telah dipastikan bersih dari sebaran api.
Proses pemadaman dilakukan secara intensif selama dua hari. Tim gabungan harus berjibaku dengan kondisi medan yang sulit serta keterbatasan sumber dan jangkauan air untuk mencapai titik-titik api.
Setelah dilakukan penanganan dan penyisiran di sejumlah lokasi, api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 17.00 WIT.
Tim kemudian melakukan pemantauan dan memastikan tidak terdapat lagi sebaran api yang mengarah ke vegetasi hutan alam di sekitar lokasi.
Berdasarkan hasil penanganan di lapangan, kebakaran diduga bermula dari aktivitas pembukaan atau pembersihan lahan kebun milik warga yang lokasinya berdekatan dengan vegetasi hutan alami.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga mengganggu habitat satwa yang dilindungi serta aktivitas ekonomi masyarakat yang bergerak di sektor ekowisata, khususnya wisata pengamatan burung Cenderawasih.
Sejumlah wisatawan dilaporkan membatalkan kunjungan karena aktivitas satwa terganggu akibat kebakaran.
Kepala BPBD Kabupaten Raja Ampat, Guntur Tamima, mengatakan bahwa penanganan karhutla dilakukan secara terpadu dengan mengutamakan keselamatan personel, masyarakat, kawasan hutan, dan lingkungan sekitar.
“Dalam satu hari, tim dapat menangani sekitar tiga hingga lima titik api. Kendala utama di lapangan adalah medan yang sulit, lokasi yang jauh, serta keterbatasan jangkauan air,” jelasnya.
Ia menyebutkan bahwa sinergi antarinstansi menjadi bagian penting dalam mempercepat pengendalian kebakaran, terutama mengingat kondisi geografis lokasi yang sulit dijangkau.
Sementara itu, pemilik spot ekowisata yang merasa dirugikan akibat dampak kebakaran telah menyampaikan laporan dan pengaduan secara resmi melalui SPKT Polres Raja Ampat.
Laporan tersebut telah diterima dan selanjutnya akan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Tim gabungan memastikan seluruh titik api telah berhasil dikendalikan. Meski api telah padam, pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api di lokasi terdampak.
AIPDA Lukman selaku Koordinator Lapangan Satgas Penanganan Karhutla bersama Kepala BPBD Kabupaten Raja Ampat Guntur Tamima menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Danyon Yonif 863 BB beserta seluruh personel yang telah terlibat dalam proses penanganan dan pemadaman karhutla.