RAJA AMPAT,MELANESIATIMES.COM — Kebakaran hutan dan lahan terjadi di kawasan belakang Polres Raja Ampat dan dilaporkan telah berlangsung selama kurang lebih dua pekan. Kondisi medan yang sulit menyebabkan kebakaran baru terdeteksi dan dilaporkan kepada pihak berwenang dalam beberapa hari terakhir.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Raja Ampat, Guntur Tamima, mengatakan bahwa berdasarkan penelusuran awal di lapangan, kebakaran diduga dipicu oleh aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar. Api kemudian tidak terkendali dan terus meluas akibat kondisi angin yang cukup kencang.
“Dugaan sementara, kebakaran ini bermula dari aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar. Namun, api kemudian tidak terkendali sehingga meluas,” ujar Guntur.
Ia menjelaskan, luas area yang terdampak sebelumnya dikhawatirkan mencapai ratusan hektare. Namun, berdasarkan estimasi sementara dari hasil pemantauan di lapangan, luas kawasan yang terbakar diperkirakan mencapai 20 hingga 30 hektare.
Kebakaran tersebut menjadi perhatian karena terjadi di kawasan yang merupakan habitat satwa dilindungi, termasuk salah satu lokasi pengamatan burung cenderawasih. Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu habitat satwa endemik apabila api tidak segera dikendalikan.
“Ini menjadi perhatian karena kawasan tersebut merupakan habitat satwa, termasuk lokasi pengamatan cenderawasih. Karena itu, penanganannya harus dilakukan secepat mungkin,” katanya.
Menurut Guntur, pergerakan api telah meluas ke sejumlah arah. Api dilaporkan menjalar menuju kawasan hutan lainnya, termasuk ke arah belakang kawasan PLN dan RSUD Kabupaten Raja Ampat.
Kondisi tersebut meningkatkan urgensi penanganan karena titik api berada tidak jauh dari sejumlah fasilitas penting. Tim di lapangan terus melakukan pemantauan untuk mencegah api semakin mendekati kawasan permukiman maupun fasilitas umum.
Proses pemadaman menghadapi kendala karena lokasi kebakaran berada di area berketinggian dengan medan terjal. Selain itu, sumber air terdekat berjarak sekitar 600 meter dari titik api, sehingga menyulitkan tim melakukan pemadaman secara cepat.
BPBD bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) dan unsur terkait terus melakukan penanganan di lapangan. Untuk memperkuat operasi pemadaman, dilakukan koordinasi dan permintaan dukungan personel.
Sebanyak 100 personel Yonif 863 Raja Ampat dikerahkan untuk membantu operasi pemadaman melalui jalur darat. Personel tersebut bergabung dengan tim gabungan untuk menangani sejumlah titik yang sulit dijangkau.
Tim gabungan juga menggunakan mesin pompa air atau alkon serta mencari sumber air alternatif untuk mendukung proses pemadaman. Di sejumlah lokasi yang sulit dijangkau kendaraan maupun peralatan, petugas melakukan penanganan secara manual.
Hingga berita ini diturunkan, Tim TRC BPBD bersama personel gabungan masih melakukan pemadaman dan pemantauan terhadap perkembangan titik api. BPBD juga masih menunggu laporan terbaru dari personel di lokasi untuk memperoleh informasi mengenai kondisi terkini dan perkembangan luas area yang terbakar.
Terkait dugaan pembakaran lahan secara sengaja, Guntur mengatakan bahwa persoalan tersebut akan ditindaklanjuti melalui proses penyelidikan oleh pihak berwenang. Apabila ditemukan unsur pelanggaran hukum, pelaku dapat diproses sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku