RAJA AMPAT, MELANESIATIMES.COM — Dua pekan ke depan menjadi periode krusial bagi Kabupaten Raja Ampat dalam menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang telah berlangsung kurang lebih tiga bulan.
Bukan hanya persoalan titik api. Kabut asap kini mulai mengancam aktivitas masyarakat, kesehatan warga hingga keberlangsungan proses belajar-mengajar di sekolah. Pemerintah Kabupaten Raja Ampat melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pun mulai menyiapkan langkah antisipasi apabila kondisi udara semakin memburuk.
Kepala BPBD Raja Ampat, Guntur Tamima, mengatakan pihaknya akan melakukan pemantauan secara intensif dalam dua pekan ke depan, khususnya terhadap perkembangan kabut asap dan kondisi udara di wilayah Waisai.
Menurut Guntur, langkah tersebut dilakukan dengan mengacu pada perkembangan situasi di lapangan serta informasi dan peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Kita akan melihat perkembangan dua minggu ke depan. Kami juga akan terus berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk melihat kondisi di lapangan,” ujar Guntur.
BPBD sebelumnya telah mengeluarkan imbauan penggunaan masker bagi masyarakat, termasuk pelajar mulai dari tingkat TK, PAUD, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi di Kabupaten Raja Ampat.
Kebijakan tersebut diambil setelah kondisi kabut asap mulai mengganggu jarak pandang di Kota Waisai. Berdasarkan pembaruan informasi yang diterima BPBD dari BMKG, jarak pandang di Waisai berada di kisaran 1 kilometer.
Jika dalam dua pekan mendatang kondisi semakin buruk dan aktivitas luar ruangan dinilai tidak lagi aman bagi peserta didik, pemerintah membuka kemungkinan menerapkan pembelajaran dari rumah.
“Untuk mengamankan anak-anak kita, adik-adik kita yang bersekolah, kami dari Satgas akan berkoordinasi dengan pimpinan Forkopimda untuk menetapkan proses pembelajaran belajar dari rumah,” tegas Guntur.
Namun, opsi tersebut tidak serta-merta diberlakukan. Keputusan akan mempertimbangkan perkembangan kondisi udara, jarak pandang serta hasil pemantauan bersama.
1 / 1
Tonton Juga Serial Pendek
👇👇👇
🖤Lagu Viral Pesta Babi**🖤
Guntur juga mengingatkan bahwa persoalan kabut asap di Raja Ampat memiliki karakter yang kompleks.
Raja Ampat memang menghadapi Karhutla di sejumlah wilayah, namun pada saat bersamaan daerah ini juga dapat menerima kiriman asap dari wilayah lain, mengingat posisi geografis Raja Ampat yang berbatasan dan berdekatan dengan sejumlah wilayah di Papua dan Maluku.
Kondisi tersebut membuat penanganan kabut asap tidak cukup hanya dengan memadamkan titik api di wilayah Raja Ampat.
Mitigasi harus berjalan dari hulu hingga perlindungan masyarakat di wilayah terdampak.
Karena itu, Satgas Karhutla bersama BPBD dan unsur terkait akan terus memantau perkembangan situasi sekaligus berkoordinasi dengan Forkopimda.
Periode dua pekan ke depan menjadi penting karena pemerintah harus memastikan dua hal berjalan bersamaan: pengendalian Karhutla dan perlindungan masyarakat dari dampak asap.
Masker menjadi perlindungan awal bagi warga yang harus tetap beraktivitas. Sementara sekolah menjadi salah satu sektor yang harus siap melakukan penyesuaian apabila kondisi udara tidak memungkinkan kegiatan belajar secara normal.
Bagi BPBD, langkah antisipasi tersebut merupakan bagian dari upaya mencegah dampak Karhutla berkembang menjadi persoalan kesehatan dan pendidikan yang lebih luas.
Raja Ampat kini tidak hanya berpacu dengan api, tetapi juga berpacu dengan waktu—sebelum asap semakin pekat dan ruang aktivitas masyarakat semakin terbatas.