RAJA AMPAT, MELANESIATIMES.COM — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Raja Ampat telah berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Kondisi kabut asap yang menyelimuti Waisai membuat Pemerintah Kabupaten Raja Ampat mengambil langkah pencegahan dengan mengimbau masyarakat, termasuk pelajar, menggunakan masker saat beraktivitas.
Kepala BPBD Kabupaten Raja Ampat, Guntur Tamima, mengatakan kondisi Raja Ampat cukup kompleks karena wilayah tersebut tidak hanya menjadi salah satu daerah yang menghasilkan asap dari karhutla, tetapi juga menerima kiriman asap dari sejumlah wilayah lain.
“Jujur kita juga salah satu penghasil asap saat ini di Pegunungan Barat Daya. Akan tetapi Kabupaten Raja Ampat ini juga salah satu daerah yang mendapatkan kiriman asap dari daerah lain, seperti Maluku, Maluku Utara, dan juga pada umumnya Papua Barat dan Papua,” ujar Guntur.
Menurutnya, kebijakan penggunaan masker tersebut dilakukan berdasarkan analisis perkembangan situasi serta informasi dari BMKG. BPBD juga telah berkoordinasi dengan Bupati Raja Ampat sebagai pimpinan daerah untuk mengeluarkan surat edaran terkait penggunaan masker.
Imbauan tersebut tidak hanya ditujukan kepada masyarakat umum di Kota Waisai, tetapi juga lingkungan pendidikan mulai dari TK, PAUD, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi di wilayah Kabupaten Raja Ampat.
Guntur menjelaskan, salah satu pertimbangan utama adalah kondisi jarak pandang di Kota Waisai yang dalam pembaruan informasi terakhir BMKG berada di kisaran 1 kilometer.
“Kondisi situasi dan jarak pandang yang ada di Kota Waisai ini kurang lebih 1 km, dan itu update terakhir yang kami terima oleh BMKG,” katanya.
1 / 1
Tonton Juga Serial Pendek
👇👇👇
🖤Lagu Viral Pesta Babi**🖤
Selain penggunaan masker, Satgas Karhutla Raja Ampat juga menyiapkan langkah lanjutan apabila kondisi kualitas udara dan kabut asap semakin memburuk.
Guntur mengatakan pihaknya akan melakukan pemantauan dalam dua pekan ke depan sekaligus berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk melihat perkembangan kondisi di lapangan.
Apabila situasi dinilai semakin tidak memungkinkan bagi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi anak-anak sekolah, BPBD bersama Satgas akan berkoordinasi dengan Forkopimda Raja Ampat untuk mempertimbangkan penerapan pembelajaran dari rumah.
“Untuk mengamankan anak-anak kita, adik-adik kita yang bersekolah, kami dari Satgas akan berkoordinasi dengan pimpinan Forkopimda untuk menetapkan proses pembelajaran belajar dari rumah,” tegasnya.
Menurut Guntur, opsi tersebut akan ditempuh apabila kondisi sudah tidak memungkinkan bagi peserta didik untuk melakukan aktivitas di luar ruangan.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla di Raja Ampat kini tidak hanya berkaitan dengan pemadaman titik api, tetapi juga mulai menyentuh aspek perlindungan kesehatan masyarakat dan keberlangsungan aktivitas pendidikan di tengah paparan kabut asap.
BPBD Raja Ampat sendiri masih melakukan pemantauan perkembangan situasi karhutla dan kondisi udara dengan mengacu pada informasi serta peringatan dini dari BMKG.