Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Rasa kepedulian terhadap sesama kembali ditunjukkan Abdullah Gazam (AG) dengan mengunjungi kediaman Edi Jadantral, seorang warga Kota Sorong yang hidup dalam keterbatasan di sebuah gubuk sederhana. Kunjungan yang dilakukan pada Sabtu (30/5/2026) itu dilandasi semangat kemanusiaan dan kepedulian terhadap kondisi masyarakat yang membutuhkan perhatian.
Abdullah Gazam yang juga merupakan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Papua Barat Daya tersebut menegaskan bahwa membantu sesama tidak harus menunggu memiliki jabatan atau kedudukan tertentu. Menurutnya, kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan merupakan tanggung jawab moral setiap manusia.
Edi Jadantral diketahui telah menetap di kawasan Rinbapala sejak tahun 1968. Bersama lima anaknya, ia lahir, tumbuh, hingga membesarkan keluarga di kawasan tersebut. Rumah yang kini ditempatinya merupakan bangunan kedua yang didirikan setelah area tempat tinggal sebelumnya terdampak penataan dan pembangunan pagar pembatas Bandara Domine Eduard Osok Sorong pada tahun 2018. Sejak saat itu, Edi bersama istrinya terpaksa bergeser ke sisi tembok bandara dan membangun sebuah gubuk sederhana sebagai tempat tinggal.
Gubuk ini memiliki ukuran sekitar 4×5 meter dan tidak memiliki ruang tamu atau teras, dari dapur langsung kamar dan termasuk rumah tidak layak huni.
(Kondisi kamar)
Masuk dari dapur langsung kamar, tidak memiliki pintu depan atau samping.
Meski anak-anaknya telah memiliki rumah masing-masing, pasangan lanjut usia tersebut memilih tetap tinggal mandiri di gubuk yang kondisinya jauh dari kata layak. Lantai rumah masih berupa tanah, atap menggunakan seng bekas, sementara dindingnya terbuat dari papan sederhana yang sudah mulai lapuk dimakan usia.
Menurut pengakuan Edi dan keluarganya, selama ini sudah banyak pihak yang datang mendata dengan meminta KTP dan Kartu Keluarga untuk keperluan bantuan sosial. Namun hingga kini, bantuan yang dijanjikan belum pernah terealisasi. Bahkan, mereka mengaku belum pernah merasakan bantuan yang secara langsung menyentuh kebutuhan hidup mereka.
Melihat kondisi tersebut, AG bersama istri dan anaknya mendatangi kediaman Edi untuk menyerahkan bantuan berupa sembako dan kebutuhan pokok lainnya. Selain itu, ia juga memberikan bantuan untuk mendukung rehabilitasi rumah yang saat ini ditempati pasangan lansia tersebut.
“Saya bukan harus jadi pejabat baru datang bantu, tetapi bantuan ini sebagai masalah kemanusiaan,” ujar AG.
Ia menegaskan bahwa bantuan yang diberikan merupakan bentuk kepedulian sesuai kemampuan yang dimiliki saat ini. Meski belum mampu membangun rumah permanen, dirinya berkomitmen membantu memperbaiki kondisi rumah agar lebih layak untuk dihuni.
Tonton Juga Serial Pendek
👇👇👇
🖤Lagu Viral Pesta Babi**🖤
“Saya membantu sesuai kemampuan saya. Untuk saat ini saya belum bisa bantu rumah permanen, tapi untuk rehab rumah saya akan bantu,” katanya.
Orang nomor satu PKB Papua Barat Daya mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat dirinya akan kembali menyalurkan bantuan berupa bahan bangunan seperti kayu, papan, dan seng untuk memperbaiki kondisi rumah yang dinilai sudah tidak layak huni.
“Dalam waktu satu dua hari saya akan kirim bahan bangunan. Yang penting nanti bapak dan keluarga yang kerja,” ungkapnya.
Tidak hanya memberikan bantuan secara pribadi, AG juga berkomitmen menyampaikan kondisi Edi Jadantral kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya agar mendapatkan perhatian lebih lanjut dari pemerintah daerah.
“Ini menjadi atensi untuk saya sampaikan kepada Bapak Gubernur dan Bapak Wakil Gubernur Papua Barat Daya,” tegasnya.
Menurut AG, bantuan pemerintah umumnya membutuhkan proses dan tahapan administrasi yang cukup panjang. Karena itu, inisiatif dan kepedulian masyarakat untuk membantu sesama dinilai dapat menjadi langkah cepat dalam menjawab kebutuhan mendesak warga yang membutuhkan uluran tangan.
Ia juga menyoroti ironi yang masih terjadi di Papua. Di tengah kekayaan sumber daya alam yang melimpah, masih ditemukan Orang Asli Papua yang hidup dalam kondisi memprihatinkan dan jauh dari standar kehidupan yang layak.
“Papua ini kaya raya, tetapi masih ada Orang Asli Papua yang hidup tidak manusiawi di atas tanahnya sendiri. Saya berharap pemerintah bisa lebih peka melihat kondisi seperti ini,” pungkas AG.
Melalui kunjungan tersebut, AG berharap kondisi yang dialami Edi Jadantral dapat menjadi perhatian bersama, baik pemerintah maupun masyarakat, sehingga warga yang hidup dalam keterbatasan dapat memperoleh bantuan dan kehidupan yang lebih layak di tanah Papua yang kaya akan sumber daya alam.