Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Upaya memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan di Papua Barat Daya membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan lintas generasi. Hal tersebut mengemuka dalam diskusi strategis mengenai transformasi pangan dan identitas sosial budaya masyarakat Papua lintas generasi yang melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), legislatif, serta akademisi. Minggu (9/8/2026).
Diskusi tersebut tidak hanya membahas persoalan produksi pangan, tetapi juga menyoroti perubahan pola konsumsi, keberlanjutan pertanian, transfer pengetahuan antarpetani, hingga pentingnya keterlibatan generasi muda Papua dalam menjaga masa depan sektor pertanian.
Peneliti BRIN bidang Pengetahuan Sosial dan Humaniora, Yoka Pramadi, S.Sos., M.I.Kom., menekankan pentingnya penguatan ketahanan pangan berbasis komunitas, khususnya di Kabupaten Sorong.
Hal itu disampaikan setelah dirinya bersama akademisi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN), Dr. Ajang Maruapey, SP., MP., melakukan kunjungan lapangan ke Kelompok Tani Sidodadi dan Tinar Buko.
Dalam kunjungan tersebut, tim melihat secara langsung perkembangan tanaman pangan, khususnya padi yang telah memasuki fase menjelang bunting hingga persiapan panen. Kunjungan lapangan itu sekaligus memberikan gambaran nyata mengenai potensi serta berbagai kendala teknis yang masih dihadapi petani.
“Pertukaran ilmu dan pendampingan antarpetani menjadi penting, termasuk antara petani pendatang dengan petani lokal dari daerah seperti Maybrat. Transfer teknik budidaya yang efektif dan kolaborasi lintas generasi menjadi salah satu kunci keberlanjutan pertanian,” ujar Yoka.
Menurutnya, keberlanjutan sektor pertanian tidak dapat hanya bergantung pada petani senior. Diperlukan langkah konkret untuk menarik minat generasi muda Papua agar memiliki ketertarikan dan kemampuan untuk melanjutkan sektor pertanian dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.
BRIN juga mendorong adanya kolaborasi aktif serta verifikasi lapangan secara langsung guna mengatasi berbagai kendala komunikasi dalam penyaluran bantuan pemerintah. Dengan demikian, bantuan yang diberikan dapat lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat.
Dalam kunjungan lapangan tersebut, tim juga bertemu dengan Anggota DPR Provinsi Papua Barat Daya dari Fraksi Gabungan Perindo dan Hanura, Willem Assem, SE., yang saat itu tengah membeli bibit padi untuk dibagikan kepada petani lokal di Maybrat.
Wakil Ketua Komisi III DPR Provinsi Papua Barat Daya itu menyambut baik masukan dan hasil pengamatan BRIN. Menurutnya, kolaborasi antara peneliti, akademisi dan legislatif penting untuk memetakan persoalan petani secara lebih komprehensif.
“Kolaborasi riset sangat penting untuk mengetahui kendala nyata yang dihadapi petani. Banyak persoalan di lapangan yang selama ini belum terpetakan dengan jelas sehingga membutuhkan penelitian dan verifikasi secara langsung,” kata Willem.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Willem juga menunjukkan kepeduliannya dengan membagikan bibit padi kepada petani di Maybrat, baik kepada kelompok tani maupun petani perorangan.
Selain dukungan tersebut, ia mendorong Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya untuk mempersiapkan lahan pertanian berskala luas di Distrik Segun, Kabupaten Sorong, yang dapat dikembangkan secara khusus untuk produksi padi.
Willem berharap pengalaman petani transmigran asal Jawa dalam mengembangkan tanaman padi dapat dimanfaatkan untuk mendampingi Orang Asli Papua (OAP). Menurutnya, proses tersebut dapat menciptakan transfer pengetahuan sekaligus mendorong persaingan sehat dan kemandirian pangan di daerah.
“Kita berharap petani yang sudah berpengalaman dapat menjadi mentor bagi petani lokal. Dengan begitu, terjadi transfer pengetahuan dan keterampilan yang pada akhirnya dapat memperkuat kemandirian pangan masyarakat Papua,” ujarnya.
Willem juga mengingatkan agar pengembangan pangan tidak hanya berorientasi pada beras. Menurutnya, padi perlu dikembangkan secara seimbang dengan pangan lokal Papua seperti sagu, keladi dan kasbi.
Ia menilai perubahan pola konsumsi masyarakat harus menjadi perhatian bersama, terutama di kalangan generasi muda yang kini semakin banyak mengonsumsi pangan introduksi.
“Konsep pangan harus kita reorientasi. Padi penting, tetapi pangan lokal seperti sagu, keladi dan kasbi juga harus terus dikembangkan. Pemerintah harus hadir melalui bantuan bibit, sarana dan peralatan pertanian serta program yang berkelanjutan, bukan hanya mengejar target proyek sesaat,” tegas Willem.
Ia mengingatkan, kegagalan dalam membangun ketahanan pangan dapat berdampak serius terhadap kehidupan masyarakat, termasuk meningkatkan risiko kelaparan dan kerawanan sosial.
Sementara itu, dari perspektif akademisi, Dosen Fakultas Pertanian UNAMIN Sorong, Dr. Ajang Maruapey, SP., MP., menyoroti perubahan budaya pangan yang terjadi di tengah masyarakat Papua.
Menurut Ajang, pangan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan biologis dan nutrisi, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan identitas dan kebudayaan masyarakat.
“Pangan bukan sekadar nutrisi biologis, tetapi juga merupakan simbol kebudayaan. Perubahan pola konsumsi dari pangan lokal seperti sagu dan keladi menuju pangan introduksi seperti beras dan mi instan mencerminkan perubahan cara hidup, kepraktisan, hingga pengaruh gaya hidup urban,” jelas Ajang.
Ia mengatakan perubahan tersebut berpotensi menciptakan kesenjangan pengetahuan antar-generasi. Generasi tua masih memiliki pengetahuan lokal atau indigenous knowledge mengenai alam, pangan dan tradisi, sementara generasi muda menghadapi tantangan berupa semakin kuatnya arus modernisasi.
Karena itu, menurut Ajang, menjaga pangan lokal tidak hanya berarti mempertahankan sumber pangan, tetapi juga menjaga pengetahuan adat, ekosistem tanah Papua serta identitas dan martabat masyarakat Papua.
“Menjaga pangan lokal adalah bagian dari menjaga kedaulatan adat dan ekosistem tanah Papua. Kita perlu memperkuat inovasi pengolahan pangan lokal sekaligus memberikan edukasi berbasis budaya kepada generasi muda,” pungkasnya.
Sinergi BRIN, legislatif dan akademisi tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun sistem pangan Papua Barat Daya yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan, berbasis potensi lokal dan mampu diwariskan kepada generasi berikutnya. (**)