Melanesiatimes.com, Kota Sorong — Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua Barat yang juga mencakup wilayah Papua Barat Daya melaksanakan kegiatan rukyatul hilal 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah di Kota Sorong, pada Minggu (17/5/2026).
Pemantauan hilal dipusatkan di Hotel Waigo Kota Sorong yang melibatkan BMKG, Forkopimda, serta Pemerintah Kota Sorong.
Kabid Bimas Islam Provinsi Papua Barat, Rofiul Amri menjelaskan, secara astronomis hilal sebenarnya berpotensi untuk terlihat. Namun kondisi cuaca mendung dan berawan membuat hilal tidak dapat diamati secara langsung.
“Dari penyampaian teman-teman BMKG dan pemantauan langsung di lapangan, hari ini potensi hilal sebenarnya bisa dilihat. Tetapi karena cuaca yang tidak memungkinkan, akhirnya kita bersama tim BMKG, Forkopimda, dan Wali Kota tidak bisa melihat hilal,” ujarnya.
Ia mengatakan, hasil pemantauan di Sorong selanjutnya akan mengikuti keputusan sidang isbat yang dilaksanakan Kementerian Agama Republik Indonesia di tingkat pusat.
“Seharusnya hilal bisa terlihat karena tinggi hilal sudah mencapai 4,69 derajat dan elongasi 9,31 derajat. Namun cuaca mendung berawan menghalangi pengamatan,” katanya.
Diwaktu yang sama Pemerintah Kota Sorong yang diwakili Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Tamrin Tajuddin menegaskan bahwa kegiatan rukyatul hilal merupakan agenda resmi Kementerian Agama yang rutin dilaksanakan untuk menentukan awal bulan Hijriah, termasuk 1 Dzulhijjah.
“Ini sudah menjadi agenda resmi Kementerian Agama untuk memastikan pelaksanaan rukyatul hilal dilaksanakan dengan baik. Karena itu seluruh pihak yang berkepentingan harus duduk bersama dalam sidang isbat untuk memastikan penetapan 1 Dzulhijjah,” ungkapnya.

Tonton Juga Serial Lagu Terbaru
👇👇👇
Lagu Viral \"Veronika\"
Ia berharap hasil sidang isbat nantinya dapat menjadi pedoman bersama sehingga tidak lagi menimbulkan perbedaan di tengah masyarakat.
“Harapan kami informasinya bisa disebarluaskan ke masyarakat sehingga tidak ada lagi perbedaan-perbedaan. Secara ilmu pengetahuan, perhitungan hilal sudah didukung data dan teknologi dari BMKG,” katanya.
Tamrin juga menambahkan bahwa keberadaan ahli falak sangat penting dalam mendukung kegiatan rukyatul hilal agar penentuan hari-hari besar Islam dapat dilakukan secara akurat dan sesuai harapan bersama.
Sementara itu, Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG Sorong, Ari Widya Ningrum memaparkan hasil hisab atau perhitungan astronomi terkait posisi hilal di Sorong.
Ia menjelaskan, waktu terbenam bulan terjadi pada pukul 18.38.25 WIT, sedangkan matahari terbenam pada pukul 18.13.33 WIT dengan selisih waktu atau lag mencapai 24 menit 52 detik. Umur bulan tercatat 13 jam 12 menit 38 detik.
“Yang terpenting, tinggi hilal mencapai 4,69 derajat dengan elongasi 9,31 derajat dan fraksi iluminasi 0,57 persen. Dari data tersebut, hilal sebenarnya berpotensi teramati berdasarkan perhitungan astronomis,” jelas Ari.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa faktor cuaca tetap menjadi penentu utama dalam proses pengamatan hilal.
“Kita tidak dapat mengabaikan faktor cuaca maupun lokasi pengamatan. Karena itu, mari bersama-sama menunggu hasil resmi rukyatul hilal dan keputusan sidang isbat,” pungkasnya.