Melanesiatimes.com, Jakarta – Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo, menyebut partisipasi Papua Barat Daya dalam event pameran pariwisata berskala nasional dan internasional memberikan dampak positif terhadap promosi destinasi wisata daerah sekaligus membuka peluang kerja sama strategis dengan berbagai mitra industri pariwisata. Sabtu (25/4/2026).
Selama tiga hari pelaksanaan pameran, booth Papua Barat Daya mencatat transaksi yang signifikan dengan penjualan sebanyak 98 paket wisata bahari. Nilai transaksi business to consumer (B2C) diperkirakan mencapai Rp1,2 miliar, menunjukkan tingginya minat wisatawan terhadap potensi wisata unggulan di wilayah tersebut.
Tak hanya dari sisi transaksi, antusiasme pengunjung juga terlihat dari jumlah kunjungan yang mencapai 3.523 orang selama pameran berlangsung. Tingginya angka kunjungan tersebut dinilai menjadi indikator meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap destinasi wisata di Papua Barat Daya.
“Event pameran seperti ini menjadi strategi krusial untuk memperkenalkan potensi wisata Papua Barat Daya kepada audiens yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Yusdi Lamatenggo.
Di sektor business to business (B2B), Papua Barat Daya juga berhasil menjaring potensi empat nota kesepahaman (MoU) awal bersama agen perjalanan nasional dan internasional. Kerja sama tersebut diarahkan untuk pengiriman grup wisata pada kuartal III dan IV tahun ini, termasuk pengembangan pariwisata berkelanjutan yang sejalan dengan program WISE Trips Papua Barat Daya.
Yusdi menjelaskan, pameran pariwisata tidak hanya menjadi sarana promosi, tetapi juga wadah membangun jejaring dengan profesional perjalanan global. Menurutnya, ajang nasional mampu meningkatkan daya tarik wisata lokal sekaligus memperkuat citra Papua Barat Daya sebagai destinasi unggulan wisata bahari.
Meski mencatat hasil positif, pelaksanaan pameran juga menghadapi sejumlah tantangan. Tingginya antusiasme pengunjung menyebabkan stok suvenir eksklusif dan materi promosi cetak habis pada pertengahan hari ketiga pameran.
Selain itu, area B2B di dalam booth dinilai kurang luas sehingga membatasi ruang gerak saat jam sibuk. Kondisi tersebut membuat beberapa proses negosiasi dan diskusi bisnis berlangsung kurang kondusif akibat tingginya tingkat kebisingan di area pameran.
Video Viral
👇👇👇
Yanto Ijie
Sambangi Rumah Kumuh Kota Sorong
“Kami melihat perlu adanya perluasan ukuran booth pada agenda berikutnya agar tersedia ruang B2B yang lebih representatif untuk negosiasi industri pariwisata,” katanya.
Keluhan lain yang cukup dominan datang dari pengunjung domestik terkait harga tiket pesawat menuju Sorong yang masih dianggap mahal. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian calon wisatawan menunda transaksi perjalanan wisata mereka.
Menurut Yusdi, persoalan aksesibilitas dan harga tiket penerbangan perlu mendapat perhatian bersama, termasuk melalui edukasi rute penerbangan alternatif maupun intervensi promo khusus dari maskapai penerbangan.
“Kami berharap ada penguatan kolaborasi dengan maskapai nasional untuk menghadirkan promo bundling ticket dan tour eksklusif selama event pameran berlangsung,” ujarnya.
Tingginya frekuensi pertanyaan pengunjung mengenai aksesibilitas dan paket perjalanan spesifik juga menunjukkan perlunya keterlibatan lebih banyak pelaku industri wisata lokal dalam kegiatan promosi mendatang.
Karena itu, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Papua Barat Daya berencana menambah kuota keterlibatan mitra wisata lokal pada event pameran berikutnya guna mengakomodasi antusiasme calon wisatawan secara lebih maksimal.
Ke depan, pihaknya juga akan mulai melakukan transformasi promosi digital melalui penggunaan e-katalog berbasis QR Code untuk menggantikan sebagian brosur cetak. Langkah tersebut sekaligus diharapkan mampu meningkatkan efisiensi promosi dan menjangkau audiens lebih luas secara daring.
Optimalisasi promosi digital juga akan dilakukan melalui siaran langsung Instagram, TikTok, hingga virtual tour booth. Bahkan, pengalaman wisata berbasis teknologi Virtual Reality (VR) direncanakan untuk diperkuat agar pengunjung dapat mengenal destinasi unggulan Papua Barat Daya secara virtual dan lebih interaktif.