Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Aksi unjuk rasa yang dilakukan kelompok Mama-Mama Papua di depan Kantor Gubernur Papua Barat Daya masih berlanjut hingga hari kedua. Massa aksi menyuarakan sejumlah tuntutan, di antaranya penolakan terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) di Tanah Papua serta meminta realisasi hak dana Otonomi Khusus (Otsus) bagi Mama-Mama Papua. Kamis (2/7/2026).
Salah seorang peserta aksi menegaskan bahwa anggaran Otsus merupakan hak Orang Asli Papua (OAP) yang semestinya diperuntukkan bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat Papua, khususnya Mama-Mama Papua melalui program usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Anggaran Otsus itu hak Orang Asli Papua. Dana tersebut harus dikembalikan kepada Mama-Mama Papua untuk mendukung ekonomi masyarakat, khususnya pemberdayaan UMKM Mama Papua,” ujar salah seorang peserta aksi.
Meski telah dilakukan mediasi oleh pemerintah daerah, massa aksi menolak hasil pertemuan tersebut karena menginginkan dialog langsung dengan Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu. Dalam proses mediasi, pemerintah diwakili oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), namun kehadiran pejabat tersebut dinilai belum memenuhi harapan para demonstran.
Massa aksi menyatakan tetap bertahan di lokasi hingga Gubernur Papua Barat Daya bersedia menemui mereka dan mendengarkan aspirasi yang disampaikan. Mereka menilai kehadiran gubernur menjadi kunci penyelesaian persoalan yang tengah mereka perjuangkan.
Tonton Juga Serial Pendek
👇👇👇
🖤Lagu Viral Pesta Babi**🖤
“Apa bila Pak Gubernur turun dan mendengarkan keluhan kami, maka semua akan selesai. Namun hingga saat ini Gubernur Elisa belum menemui kami,” kata peserta aksi.
Selain berunjuk rasa, massa juga melakukan pemalangan di Kantor Wali Kota Sorong dan Kantor Gubernur Papua Barat Daya. Mereka berencana melaksanakan prosesi adat berupa pemasangan sasi di pintu gerbang Kantor Gubernur Papua Barat Daya sebagai bentuk simbolis penegasan tuntutan mereka.
Menurut informasi yang disampaikan peserta aksi, prosesi adat tersebut akan dilakukan setelah kedatangan seekor babi yang akan dipotong sebagai bagian dari ritual adat Papua sebelum pemasangan sasi dilaksanakan.
Sebelumnya, tuntutan utama Mama-Mama Papua berfokus pada pengembalian dana Otsus yang dianggap menjadi hak mereka, khususnya anggaran pemberdayaan ekonomi melalui sektor UMKM bagi Mama-Mama Papua.