Melanesiatimes.com, Aimas Kabupaten Sorong — Persoalan pasokan air bersih kembali dikeluhkan warga di kawasan Jalan Wortel, Unit II, Kelurahan Malasom, Kabupaten Sorong. Dalam sebulan terakhir, aliran air disebut semakin tidak menentu, bahkan warga mengaku hanya dapat menikmati air setiap empat hingga lima hari sekali dengan durasi sekitar satu jam. Kamis (13/8/2026).
Salah satu warga, Ruslan, mengatakan kondisi tersebut sangat menyulitkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Air yang mengalir pun belum selalu dalam kondisi bersih.
“Kadang empat hari sekali, kadang lima hari baru mengalir. Itu pun hanya sekitar satu jam, setelah itu berhenti lagi,” ujar Ruslan
Menurutnya, kondisi saat ini jauh berbeda dibandingkan ketika pengelolaan air masih dilakukan oleh pihak swasta. Saat itu, kata dia, distribusi air dinilai lebih lancar dan masyarakat lebih mudah mendapatkan pelayanan ketika terjadi gangguan.
“Dulu kalau ada masalah, kami tinggal telepon dan langsung diperbaiki. Sekarang kami bingung harus menelepon siapa karena katanya sudah ditangani PU,” katanya.
Ruslan juga mengungkapkan, sebelum pengelolaan beralih, petugas yang menangani pelayanan air dinilai lebih memahami lokasi para pelanggan. Hal itu membuat penanganan gangguan dapat dilakukan dengan cepat.
“Dulu pihak swasta hafal lokasi konsumen. Kalau ada masalah, kami telepon, mereka langsung datang dan memperbaiki,” ungkapnya.
Terbatasnya pasokan air membuat warga Malasom terpaksa membeli air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ruslan menyebut, harga air yang dibeli warga sekitar Rp120 ribu untuk volume kurang lebih 1.200 liter.
“Sekarang untuk kebutuhan air kami harus membeli. Kalau air lancar, kami bisa mandi dan mencuci. Tapi sekarang mandi saja kadang terhambat, apalagi mau mencuci,” tuturnya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Sorong memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut. Menurutnya, air bersih merupakan kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda dan harus tersedia secara merata bagi masyarakat.
“Harapannya pemerintah Kabupaten Sorong sangat memperhatikan masalah air ini. Air merupakan kebutuhan dasar masyarakat setiap hari,” harap Ruslan.
Keluhan lebih serius disampaikan La Jasini Marinti, warga Jalan Makam, kawasan GGT. Ia mengaku jaringan air perpipaan di wilayahnya sudah lama tidak mengalir.
“Air di sini sungguh sangat menyedihkan. Tidak ada air keran sama sekali. Sudah lama sekali kering,” ujar La Jasini.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat warga tidak memiliki pilihan selain membeli air tangki. Padahal, saat pertama kali tinggal di kawasan tersebut sekitar tiga tahun lalu, air disebut mengalir lancar setiap hari.
“Dulu airnya jernih sekali dan tiap hari lancar. Tidak perlu pakai pompa, buka keran air langsung keluar. Sekarang sudah tidak seperti itu lagi,” katanya.
La Jasini berharap pemerintah segera melakukan penataan kembali sistem pelayanan air bersih dan mencari solusi agar masyarakat tidak terus mengalami kekurangan air.
“Kami berharap pemerintah dapat menata ulang semuanya atau mencari solusi. Dulu hampir setiap hari air mengalir dengan baik dan kami tidak pernah kekurangan,” ucapnya.
Hal serupa disampaikan Anto, warga Jalan Makam Blok 2. Ia mengatakan pasokan air di kawasan tempat tinggalnya sudah lebih dari satu bulan tidak berjalan normal.
“Untuk sekitar sini benar-benar tidak ada. Sudah lebih dari sebulan. Bulan lalu sempat ada, tetapi hanya sedikit. Bulan ini belum ada lagi,” kata Anto.
Anto mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab terganggunya distribusi air. Namun, menurutnya, kondisi tersebut sangat mengganggu aktivitas warga karena air merupakan kebutuhan utama rumah tangga.
“Air ini kebutuhan utama warga. Kalau bisa minimal seminggu dua kali mengalir, itu sudah sangat membantu untuk keperluan rumah,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kewajiban masyarakat yang tetap harus membayar tagihan air meski pelayanan yang diterima tidak berjalan maksimal.
“Kita tetap bayar setiap bulan. Tetapi kalau pelayanannya seperti ini, tentu muncul rasa enggan untuk membayar,” ungkapnya.
Anto mengatakan kondisi pelayanan air saat ini berbeda dengan sebelumnya ketika pengelolaan masih dilakukan pihak swasta. Menurut dia, pada masa itu aliran air relatif lancar dan gangguan dapat segera ditangani.
“Dulu kalau ada gangguan, paling lama seminggu sudah diperbaiki. Bahkan kadang sehari sudah kembali normal,” katanya.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Sorong melalui instansi terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jaringan dan distribusi air bersih di Malasom dan kawasan sekitarnya.
Bagi warga, persoalan tersebut bukan sekadar masalah pelayanan, tetapi menyangkut kebutuhan pokok yang harus dipenuhi setiap hari. Mereka berharap pemerintah bisa kembalikan kepada pihak swasta agar dapat menghadirkan sistem distribusi air yang lebih lancar, merata, dan berkelanjutan sehingga masyarakat tidak terus bergantung pada pembelian air tangki.