Melanesiatimes.com, Raja Ampat — Upaya menanamkan kesadaran menjaga lingkungan sejak usia dini terus diperkuat di kawasan konservasi Raja Ampat. Sebanyak 87 siswa sekolah dasar di Distrik Kofiau mengikuti program Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) untuk mengenal lebih dekat pentingnya menjaga ekosistem laut dan darat yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat.
Kegiatan yang berlangsung pada 7–8 Agustus 2026 tersebut digagas Dinamika Alam Nusantara (DIANTARA) bersama Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelola Kawasan Konservasi di Perairan Kepulauan Raja Ampat, dengan dukungan pendanaan hibah dari Blue Abadi Fund (BAF).
Program PLH menyasar sekolah-sekolah yang berada di dalam Kawasan Konservasi Kofiau-Boo, salah satu dari lima kawasan konservasi pesisir dan pulau-pulau kecil (KKP3K) di Raja Ampat. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mendukung implementasi standar pelayanan pengelolaan kawasan, khususnya dalam aspek pendidikan dan penyadartahuan konservasi.
Kepala BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi di Perairan Kepulauan Raja Ampat, Hasan Makasar, S.Pd., menilai pendidikan lingkungan merupakan bagian penting dalam membangun pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan.
“Penyadartahuan konservasi tidak cukup dilakukan melalui sosialisasi kepada masyarakat dewasa saja, tetapi perlu ditanamkan sejak usia sekolah. Program PLH yang dilaksanakan DIANTARA menjadi contoh kolaborasi yang baik dalam mendukung standar pelayanan pengelolaan kawasan, khususnya pada aspek pendidikan dan penyadartahuan,” ujar Hasan.
Menurut Hasan, anak-anak di kawasan Kofiau-Boo perlu tumbuh dengan pemahaman bahwa laut, hutan, dan sumber daya alam bukan sekadar aset lingkungan, tetapi juga bagian dari identitas dan masa depan masyarakat Raja Ampat.
“Kami berharap anak-anak di Kofiau-Boo tumbuh dengan pemahaman bahwa menjaga laut, hutan, dan sumber daya alam adalah bagian dari identitas dan masa depan mereka sebagai masyarakat Raja Ampat,” katanya.
Ia menambahkan, penguatan pendidikan lingkungan di kampung-kampung yang berada dalam kawasan konservasi merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan Raja Ampat. Generasi muda yang memahami nilai-nilai konservasi dinilai akan lebih siap mengambil peran sebagai penjaga kawasan di masa depan.
Karena itu, pengelola kawasan berencana membangun kolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Raja Ampat untuk mendorong Pendidikan Lingkungan Hidup menjadi bagian dari muatan lokal di satuan pendidikan. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan sekaligus menjaga keberlanjutan program.
Selama dua hari pelaksanaan, kegiatan diikuti 87 siswa. Pada 7 Agustus 2026, PLH digelar di SD Negeri 37 Mikiran dengan peserta sebanyak 30 siswa kelas III hingga VI, terdiri atas 12 siswi dan 18 siswa.
Sehari kemudian, 8 Agustus 2026, kegiatan dilanjutkan di SD YPK Bethel Deer yang diikuti 57 siswa kelas IV hingga VI. Peserta terdiri atas 32 siswi dan 25 siswa.
Wakil Kepala SD Negeri 37 Mikiran, Yushein Ambafen, berharap program tersebut dapat terus dilaksanakan sehingga semakin banyak anak di Kofiau mendapatkan kesempatan belajar tentang lingkungan dan konservasi.
“Hal baik ini kiranya dapat berlangsung lagi di masa mendatang sehingga adik-adik dari peserta saat ini juga dapat terpapar PLH. Walaupun Kofiau-Boo merupakan pulau yang jauh dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Halmahera, semangat peduli lingkungan harus tetap menjadi gaya hidup dari generasi ke generasi,” kata Yushein.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa tidak hanya mendapatkan materi secara teoritis. Melalui metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan, mereka diperkenalkan dengan fungsi ekosistem pesisir dan laut, pentingnya menjaga terumbu karang dan sumber daya alam, serta berbagai perilaku sederhana yang dapat diterapkan untuk melindungi lingkungan di sekitar mereka.
Edukator DIANTARA, Warda Amir, mengatakan pendidikan lingkungan menjadi fondasi penting bagi anak-anak yang tumbuh di wilayah kepulauan seperti Raja Ampat.
“Pendidikan ini penting sebagai dasar bagi anak-anak usia dini untuk lebih mengenal dan mencintai alamnya. Kami berharap generasi muda Kofiau dapat tumbuh menjadi agen perubahan dan garda terdepan penjaga keberlanjutan ekosistem serta pembangunan berkelanjutan di Raja Ampat,” ujarnya.
Melalui pendidikan konservasi sejak dini, DIANTARA bersama para mitra berharap anak-anak Kofiau tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga tumbuh sebagai generasi yang memiliki kepedulian dan tanggung jawab terhadap kelestarian alam.
Upaya tersebut dinilai penting bagi masa depan Raja Ampat yang dikenal sebagai salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati laut terkaya di dunia. Dari ruang-ruang kelas di pulau-pulau kecil, kesadaran menjaga laut dan alam diharapkan tumbuh menjadi gerakan lintas generasi untuk memastikan kekayaan alam Raja Ampat tetap lestari.
Dinamika Alam Nusantara (DIANTARA) merupakan organisasi yang berfokus pada pengembangan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di Papua Barat Daya. DIANTARA memperkuat pengetahuan, kesadaran, dan perilaku peduli lingkungan melalui pengembangan modul pembelajaran, bahan ajar, media edukasi, pelatihan fasilitator, serta pendampingan program pendidikan lingkungan di sekolah dan masyarakat.
Tim DIANTARA memiliki pengalaman melaksanakan program PLH di Sorong, Raja Ampat, Fakfak, dan Kaimana dengan pendekatan yang memadukan ilmu pengetahuan, kearifan lokal, dan konteks ekologis Papua. Ke depan, DIANTARA diarahkan untuk menjadi salah satu organisasi rujukan dan pusat pengembangan PLH di Papua, sekaligus mendukung lahirnya edukator dan fasilitator lingkungan yang kompeten serta generasi penjaga alam Papua.