RAJA AMPAT, Melanesiatimes.com – Kehadiran Maxim di Waisai disambut dengan narasi “murah dan transparan”. Tapi di balik pujian itu, ada kegelisahan yang sengaja disembunyikan. Nasib ratusan pengemudi ojek lokal yang selama ini jadi tulang punggung transportasi warga.
Sebagian warga memang mendukung. Alasannya sederhana, tarif diketahui di awal, tidak ada tawar-menawar, dan pengemudi dianggap lebih tertib administrasi. Grup Facebook Opini Pileg Raja Ampat penuh komentar yang memuji sistem aplikasi sebagai jawaban atas tarif liar yang selama ini dikeluhkan wisatawan.
“Ini kota wisata dunia, semua harus dipermudah dengan teknologi,” tulis salah satu warga. Kalimat yang terdengar modern, tapi mengabaikan satu hal teknologi tanpa regulasi hanya akan melindas yang lemah.
Masalahnya, masuknya Maxim diduga tanpa kejelasan posisi hukum. Selama ini ojek konvensional beroperasi tanpa standar tarif, tapi mereka juga hidup di ekosistem lokal mengenal pelanggan, berbagi informasi, dan bahkan, menyerap tenaga kerja kampung. Sekarang, mereka dipaksa bersaing dengan perusahaan asing yang bermodalkan aplikasi dan algoritma.
Pengelola homestay di Saleo dan Saporkren ikut bersuara mendukung. Alasannya masuk akal. Wisatawan butuh akses murah dan cepat. Tapi dukungan itu juga menunjukkan ketergantungan sektor pariwisata pada layanan luar, bukan pada penguatan transportasi lokal.
Tonton Juga Serial Pendek
👇👇👇
🖤Lagu Viral Pesta Babi**🖤
Yang lebih janggal, suara pro-kontra hanya datang dari pengguna dan pelaku wisata. Pemerintah daerah diam. Tidak ada pernyataan resmi soal legalitas Maxim, soal kewajiban pajak, atau soal perlindungan bagi pengemudi lokal. Seolah-olah, asal warga merasa nyaman, persoalan selesai.
Padahal, kalau pemerintah benar-benar berpihak, ruang untuk inovasi tidak harus berarti mematikan ekonomi kecil. Solusinya sederhana. Wajibkan Maxim bermitra dengan ojek lokal, tetapkan tarif dasar, dan pastikan pajak daerah masuk ke kas Raja Ampat.
Tanpa itu, yang terjadi bukan modernisasi. Yang terjadi justru kolonialisme digital perusahaan besar masuk, meraup untung, sementara pengemudi lokal tersingkir pelan-pelan.
Warga boleh senang tarif murah hari ini. Tapi kalau besok ojek konvensional mati, jangan kaget kalau harga kembali naik tanpa bisa ditawar. Karena monopoli selalu dimulai dengan diskon.