Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Papua Barat Daya menggelar pelatihan peningkatan keselamatan wisata bagi para pengelola dan pelaku sektor pariwisata di Papua Barat Daya. Kegiatan tersebut berlangsung di Akademi Perikanan Sorong (Apsor), pada Rabu (26/8/2026).
Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya, Irman Murafer, mengatakan kegiatan keselamatan wisata tersebut merupakan program Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia melalui Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan.
“Kegiatan Keselamatan Wisata ini merupakan program Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, melalui Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan, yang dilaksanakan melalui Tugas Pembantuan (TP) oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya,” ujar Irman.
Menurutnya, program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor pariwisata, khususnya dalam aspek keselamatan dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat di destinasi wisata.
Secara nasional, program tersebut dilaksanakan di 38 daerah dengan sasaran sebanyak 1.024 peserta. Sementara Provinsi Papua Barat Daya mendapatkan kuota sebanyak 30 peserta.
Pelatihan berlangsung selama dua hari, yakni 26–27 Agustus 2026, dengan total 16 jam pembelajaran. Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sorong selama tiga jam serta Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) selama sembilan jam.
“Materi teori diberikan selama enam jam pada hari pertama, kemudian pada hari kedua dilanjutkan dengan praktik lapangan selama enam jam yang berfokus pada keselamatan wisata,” jelasnya.
Usai menerima materi dari Basarnas, peserta kemudian mengikuti praktik lapangan berupa simulasi penyelamatan korban tenggelam di laut. Kegiatan tersebut dilaksanakan di kawasan Pantai Suprau, Kota Sorong.
Dalam simulasi tersebut, peserta diberikan pengalaman langsung mengenai bagaimana melakukan pertolongan dan evakuasi terhadap korban yang mengalami kecelakaan di kawasan wisata perairan.
Tidak hanya simulasi penyelamatan korban tenggelam, peserta juga dilatih mengenai cara memberikan penanganan awal terhadap korban yang mengalami kondisi pingsan hingga korban yang mengalami patah tulang di kawasan pantai.
Materi praktik ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan para pengelola destinasi wisata, sehingga mereka mampu mengambil tindakan awal secara cepat dan tepat sebelum korban mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Sebanyak 30 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai unsur, termasuk 15 orang pengelola objek wisata di kawasan pesisir Tanjung Kasuari dan Suprau.
Selain itu, lima peserta berasal dari asosiasi pariwisata, termasuk Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) dan Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA). Peserta lainnya berasal dari kalangan perguruan tinggi, relawan tanggap bencana, Politeknik Perikanan Sorong, serta Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI).
Pengelola desa wisata dari Arar, Kabupaten Sorong, juga turut ambil bagian dalam pelatihan tersebut.
Irman menjelaskan, tujuan utama kegiatan adalah memperkuat kemampuan para pengelola destinasi wisata agar mampu merespons dengan cepat ketika terjadi keadaan darurat maupun bencana di lokasi wisata.
“Tujuan utamanya adalah memperkuat kemampuan para pengelola tempat wisata, khususnya dalam merespons secara cepat ketika menghadapi kejadian darurat atau bencana di lokasi wisata,” katanya.
Ia mengatakan, kejadian seperti orang tenggelam saat berenang atau bermain di pantai merupakan salah satu risiko yang dapat terjadi di destinasi wisata, sehingga pengelola harus memiliki pengetahuan dasar mengenai keselamatan dan pertolongan pertama.
“Sering kita jumpai kasus orang tenggelam saat berenang atau bermain di pantai. Pelatihan ini membekali mereka dengan langkah-langkah penanganan awal, sehingga mereka tidak hanya menjadi pengelola, tetapi juga dapat berperan sebagai tim tanggap darurat ketika terjadi kecelakaan di area wisata,” ungkap Irman.
Menurutnya, kemampuan tersebut sangat penting, terutama bagi pengelola desa wisata dan destinasi yang berada di kawasan pesisir. Dengan adanya pelatihan ini, pengelola diharapkan lebih siap dalam memberikan pertolongan awal sekaligus meminimalkan risiko yang dapat membahayakan wisatawan.
“Pelatihan ini sangat berguna bagi para pengelola desa wisata. Kami berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan di destinasi masing-masing, sehingga aspek keselamatan wisatawan semakin menjadi perhatian dalam pengembangan pariwisata di Papua Barat Daya,” pungkasnya.