Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Pelatihan dan Sertifikasi Kompetensi Pemandu Wisata yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya resmi ditutup setelah berlangsung selama tiga hari, 10–12 Juni 2026, di Swiss-Belhotel Kota Sorong Papua Barat Daya.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sektor pariwisata agar mampu memberikan pelayanan berstandar nasional.
Usai pelatihan, para peserta secara simbolis menerima sertifikat kompetensi sebagai bentuk pengakuan atas kompetensi yang telah dimiliki. Penyerahan sertifikat tersebut menjadi penanda bahwa para pemandu wisata telah memperoleh pengakuan resmi sesuai standar kompetensi nasional di bidang kepemanduan wisata.
Selain pelatihan dan sertifikasi, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya juga menyerahkan bantuan peralatan operasional kepada para pemandu wisata sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kualitas layanan pariwisata.
Bantuan tersebut terdiri atas delapan unit radio komunikasi (HT), delapan unit GPS Maps, 76 unit life jacket, serta 40 unit wireless microphone yang diharapkan dapat menunjang tugas para pemandu wisata dalam memberikan pelayanan yang aman, nyaman, dan profesional kepada wisatawan.
Pemandu Wisata Papua Barat Daya Kantongi Sertifikat Kompetensi Nasional, Siap Bersaing di Tingkat Nasional
Instruktur sekaligus pemateri pelatihan, Dr. Farid Said, M.Pd., CHE., CTE., menegaskan bahwa kualitas SDM merupakan fondasi utama dalam membangun sektor pariwisata yang berdaya saing.
“Pariwisata itu hulunya adalah SDM. Mau bersaing dengan destinasi lain, SDM-nya harus dipersiapkan terlebih dahulu. Pemandu wisata hanya bagian kecil dari ekosistem. Kalau sopir, motoris, resepsionis, atau pelaku wisata lainnya tidak kompeten, maka pelayanan juga tidak akan maksimal. Karena itu semua profesi di sektor pariwisata harus memiliki standar kompetensi yang sama,” ujarnya.
Menurut Farid, Kementerian Pariwisata telah menetapkan sekitar 400 skema profesi di bidang pariwisata yang dijabarkan melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).
Ia menjelaskan bahwa sertifikasi kompetensi bukanlah sebuah ujian, melainkan bentuk pengakuan resmi terhadap kemampuan seseorang yang telah terbukti melalui pengalaman kerja.
“Sertifikasi kompetensi adalah pengakuan. Dari 40 peserta yang mengikuti kegiatan ini, mereka pada dasarnya sudah memiliki pengalaman di lapangan, tinggal diakui oleh pemerintah. Sertifikat kompetensi memiliki lambang Garuda, artinya diakui oleh pemerintah pusat melalui BNSP,” jelasnya.
Farid juga mengungkapkan bahwa sertifikat kompetensi memiliki nilai yang sangat tinggi karena mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).
“Perpres Nomor 8 Tahun 2012 menyatakan bahwa sertifikat kompetensi ini setara dengan Diploma 1. Jadi ini bukan sekadar sertifikat pelatihan biasa, tetapi pengakuan resmi atas kompetensi seseorang,” katanya.
Video Viral
👇👇👇
Yanto Ijie
Sambangi Rumah Kumuh Kota Sorong
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa sertifikat tersebut berlaku secara nasional sehingga membuka peluang kerja yang lebih luas bagi para pemandu wisata.
“Sertifikat kompetensi ini berlaku secara nasional. Bahkan tersedia juga skema internasional bagi mereka yang memenuhi persyaratan, terutama kemampuan berbahasa Inggris. Ke depan, saya berharap tidak hanya pemandu wisata yang disertifikasi, tetapi juga sopir dan motoris agar seluruh ekosistem pariwisata memiliki standar pelayanan yang sama,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Papua Barat Daya, Michael Mobalen, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya melalui Dinas Pariwisata yang telah memfasilitasi pelaksanaan pelatihan dan sertifikasi kompetensi tersebut.
“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, khususnya Dinas Pariwisata, yang telah mengakomodasi kegiatan ini sehingga teman-teman pemandu wisata dapat memperoleh pengakuan kompetensi secara resmi. Selama ini mereka sudah bekerja, tetapi legalitasnya kini dibuktikan melalui sertifikat kompetensi,” ujarnya.
Michael juga mengapresiasi LSP Anging Mamiri yang telah memberikan materi dan pembekalan kepada para peserta selama pelatihan.
“Kami mendapatkan banyak pengetahuan baru mengenai teknik-teknik kepemanduan wisata. Walaupun sudah terbiasa bekerja di lapangan, pelatihan ini memberikan wawasan baru yang sangat bermanfaat,” katanya.
Ia menjelaskan, peserta pelatihan berasal dari seluruh pengurus HPI di Papua Barat Daya, yakni Kota Sorong, Kabupaten Sorong, Raja Ampat, Sorong Selatan, dan Maybrat. Seluruh peserta merupakan Orang Asli Papua (OAP).
Menurut Michael, sertifikat kompetensi akan meningkatkan rasa percaya diri para pemandu wisata sekaligus membuka peluang untuk bekerja di berbagai daerah di Indonesia.
“Dengan adanya sertifikat ini, teman-teman menjadi lebih percaya diri dan memiliki kesempatan untuk meningkatkan jam terbang, tidak hanya di daerah masing-masing tetapi juga di berbagai wilayah lain di Indonesia,” tuturnya.
Michael turut menyampaikan apresiasi atas bantuan peralatan operasional yang diberikan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya. Menurutnya, bantuan tersebut sangat dibutuhkan untuk mendukung pelayanan kepada wisatawan, terutama saat menangani rombongan dalam jumlah besar.
“Kami sangat bersyukur atas bantuan alat pendukung yang diberikan. Selama ini kami sering mengalami kendala saat memandu tamu dalam jumlah besar, khususnya wisatawan kapal pesiar. Dengan adanya wireless microphone ini, komunikasi dengan tamu akan jauh lebih efektif sehingga pelayanan kepada wisatawan dapat semakin optimal,” pungkasnya.