RAJA AMPAT, MELANESIATIMES.COM – Kehadiran delegasi Lenggong Geopark, Negeri Perak, Malaysia menjadi salah satu sorotan utama dalam pelaksanaan Geo Fest 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Raja Ampat UNESCO Global Geopark. Rombongan ini hadir untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan terkait pengelolaan warisan geologi dan arkeologi yang telah diakui secara internasional, serta memperkuat kerja sama antar kawasan geopark dunia.
Lenggong Geopark terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO dan dikenal sebagai “tempat lahirnya peradaban di Semenanjung Malaysia”. Berdasarkan hasil riset arkeologi yang dilakukan selama puluhan tahun, kawasan ini telah dihuni manusia sejak sekitar 1,83 juta tahun lalu, menjadikannya salah satu bukti keberadaan manusia tertua di wilayah Asia Tenggara.
Temuan peninggalan paling ikonik yang menjadi kebanggaan kawasan ini adalah Perak Man, kerangka manusia purba yang diperkirakan berusia sekitar 11.000 tahun. Temuan ini ditemukan di Gua Gunung Runtuh, dan menjadi bukti penting tentang kehidupan masyarakat pada masa prasejarah. Selain itu, Gua Kota Tampan di kawasan tersebut juga menyimpan beragam artefak berupa alat-alat batu yang berusia ribuan tahun, serta catatan tentang perubahan iklim dan bentuk bentang alam yang terjadi sepanjang perjalanan waktu.
Dalam sesi Dialog Budaya yang berlangsung, perwakilan delegasi Lenggong Geopark menyampaikan pandangannya tentang nilai warisan yang dimiliki kawasan mereka. “Geologi Lenggong mencatat segala sesuatu, mulai dari pembentukan batuan yang berusia ratusan juta tahun hingga lapisan tanah yang menyimpan berbagai peninggalan sejarah. Sama seperti yang dipahami di Raja Ampat, kami memandang alam ini sebagai buku sejarah yang terbuka untuk dipelajari dan dipahami,” ujar perwakilan delegasi Lenggong Geopark.
Tonton Juga Serial Pendek
👇👇👇
🖤Lagu Viral Pesta Babi**🖤
Salah satu temuan menarik yang disampaikan adalah penemuan alat semacam pembuka cangkang siput yang menyertai kerangka Perak Man. Penemuan ini menjadi bukti bahwa manusia purba pada masa itu sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk memanfaatkan sumber daya alam dengan cara yang tepat, termasuk dalam mengolah dan mengonsumsi hasil laut dan alam sekitarnya.
Keterkaitan penemuan ini juga disampaikan oleh ahli arkeologi asal Papua, Abdul Razak Macap. Menurutnya, alat sejenis juga ditemukan dalam penelitian yang dilakukan di Gua Mololo, Teluk Mayalibit, serta sejumlah gua di wilayah Misool Selatan, Raja Ampat. Namun, beberapa temuan artefak tersebut belum di ekspose dan masih dalam tahapan analisa. Hal ini menunjukkan adanya kesamaan pola pemanfaatan sumber daya alam dan cara hidup yang diterapkan oleh masyarakat purba di kedua kawasan yang terpisah jarak, sekaligus menjadi bukti keterkaitan budaya dan peradaban pada masa lalu.
Saat ini, pengelolaan Lenggong Geopark dilakukan dengan cara memadukan tiga hal utama, yaitu ilmu pengetahuan, upaya pelestarian alam, serta kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat adat yang tinggal di sekitar kawasan. Pendekatan ini terbukti efektif dalam menjaga kelestarian warisan sekaligus memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat setempat.
Dengan terjalinnya kerja sama antara Lenggong Geopark Malaysia dan Raja Ampat UNESCO Global Geopark, diharapkan kedua kawasan dapat menjadi ruang saling belajar dan berbagi pengalaman. Tujuannya adalah untuk bersama-sama menjaga kelestarian warisan geologi dan arkeologi yang dimiliki, serta memanfaatkan kekayaan tersebut secara bijak. Dengan cara ini, pembangunan dan pengembangan kawasan dapat berjalan seimbang, mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, namun tetap menjaga kelestarian alam dan nilai-nilai sejarah yang menjadi aset berharga bagi bangsa dan dunia.