RAJA AMPAT, MELANESIATIMES.COM – Badan Pengelola Raja Ampat UNESCO Global Geopark menggelar Dialog Budaya dalam rangkaian kegiatan Geo Fest 2026. Kegiatan ini menghadirkan narasumber ahli arkeologi Abdul Razak Macap yang menyajikan pandangan mendalam mengenai nilai sejarah dan peradaban yang tersimpan di kawasan tersebut.
Dengan pendekatan yang khas sebagai peneliti arkeologi, Abdul Razak Macap memandang bentang alam Raja Ampat bukan hanya sebagai kawasan dengan keindahan alam yang luar biasa, melainkan juga sebagai arsip terbuka yang menyimpan berbagai jejak perjalanan peradaban manusia sepanjang masa. Ia menekankan bahwa lapisan-lapisan batuan dan struktur geologi di wilayah ini tidak sekadar merekam proses pembentukan alam yang berlangsung selama jutaan tahun, melainkan juga menjadi pijakan yang menjelaskan pola hunian, pergerakan masyarakat, serta perkembangan kebudayaan pada masa lalu.
“Geologi memberikan kerangka waktu dan gambaran proses alam yang terjadi, sementara artefak peninggalan, pola permukiman, serta tradisi lisan masyarakat menjadi data pelengkap yang membentuk kisah utuh. Keduanya harus dipahami dan ditelusuri secara bersamaan, agar kita dapat memahami bagaimana manusia di Raja Ampat mampu beradaptasi dan hidup selaras dengan lingkungannya selama ribuan tahun,” ujarnya dalam paparan.
Video Viral
👇👇👇
AG Bantu Bahan Bangunan
Rumah Kumuh Kota Sorong
Dalam paparannya, ia menyampaikan hasil penelitian penting yang telah dilakukan, salah satunya adalah penelitian di Gua Mololo, Teluk Mayalibit, yang dilaksanakan bersama tim peneliti dari Universitas Oxford, Universitas Gadjah Mada, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hasil penelitian menemukan sisa-sisa resin pembuat api yang berusia antara 50.000 hingga 55.000 tahun lalu. Temuan ini membuktikan bahwa kawasan Waigeo telah dihuni oleh manusia sejak lebih dari 50.000 tahun yang lalu. Penemuan ini pun telah diakui secara internasional, dipublikasikan dalam jurnal ilmiah ternama Antiquity, dan dibukukan dalam karya berjudul Arkeologi Waigeo.
Lebih lanjut, Abdul Razak Macap menilai bahwa pelaksanaan Dialog Budaya dalam Geo Fest 2026 menjadi momen yang sangat berharga untuk mempertemukan berbagai unsur penting, mulai dari ilmu pengetahuan arkeologi, pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat, hingga praktik pengelolaan kawasan geopark. Ia menegaskan bahwa keterlibatan aktif masyarakat adat dalam proses pendokumentasian situs-situs bersejarah dan narasi-narasi perjalanan sejarah akan memberikan manfaat ganda: selain memperkuat upaya pelestarian dan konservasi warisan budaya, hal ini juga akan memperkaya narasi global mengenai keunikan dan kekayaan Raja Ampat sebagai kawasan geopark dunia.
Kegiatan Dialog Budaya ini diharapkan dapat melahirkan kesepakatan dan peta jalan kerja sama yang jelas antara peneliti, pengelola kawasan, serta komunitas adat. Tujuannya agar warisan arkeologi dan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya dapat terjaga dengan baik, sekaligus menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya pembangunan berkelanjutan yang menguntungkan masyarakat dan lingkungan di Raja Ampat.