RAJA AMPAT, Melanesiatimes.com – Pemerintah Kabupaten Raja Ampat gelar Festival Jejak Raja di areal Pantai Waisai Torang Cinta (WTC) pada 29 Agustus 2025 lalu.
Kegiatan ini dihadiri dan dibuka resmi oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zoon, ia menyampaiakan.
“Dibalik lautan biru dan keindahan alamnya yang memukau raja ampat menyimpan cerita peradaban para Raja, seni, kearifan lokal yang tidak ternilai harganya dan raja ampat merupakan salah satu kawasan dengan biodiversitas laut terkaya di dunia,” pungkas Menteri Kebudayaan.
Saat memasuki lokasi kegiatan Festival Jejak Raja di Pantai WTC, rombongan Menteri Kebudayaan disambut hangat dengan sejumlah pertunjukan seni diantaranya suling tambur, tarian yosim pancar, tarian lalayon, tarian kolosal dan tarian adat lainnya.
Tonton Juga Serial Pendek
👇👇👇
🖤Film Papua Sedih \"Menjemput Harapan\"🖤
Fadli Zoon mengaku bahwa Raja Ampat terkenal di dunia sebagai surga bahari dan keindahan alam yang memukau. Akan tetapi selain keindahan alam dan surga bawah laut yang memukau, Raja Ampat memiliki rentetan budaya tradisional yang perlu mendapat perhatian serius dari Pemerintah Pusat.
Menariknya usai membuka Festival Jejak Raja, Menteri Kebudayaan itu sempatkan diri untuk berkunjung di stand-stand (lapak) milik masyarakat yang memamerkan kreativitas Mama-mama hingga anak muda Papua lewat kearifan lokal berbasis Kebudayaan salah satunya adalah Butik Matta Be Talefo.
Matta Be Talefo sendiri memiliki makna dalam Bahasa Ma’ya yang artinya adalah “Mari Sama-sama” Suku Ma’ya adalah suku Pribumi Asli Raja Ampat.
Matta Be Talefo, selain memilik makna tersendiri dalam bahasa asli Raja Ampat (Suku Ma’ya). Butik ini juga menyediakan batik yang terkenal produk kolaborasinya yakni perpaduan antara ukiran batik dan gambar flora-fauna yang merupakan keanekaragaman hayati terkaya milik Raja Ampat.