Melanesiatimes.com, Jakarta — Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (DPP BKPRMI) memperkuat sinergi dengan Kementerian Pertanian (Kementan) RI untuk mendorong masjid tidak hanya menjadi pusat kegiatan ibadah, tetapi juga berperan dalam ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi umat dan pelestarian lingkungan.
Sinergi tersebut dibahas dalam pertemuan DPP BKPRMI bersama Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman di Ruang Pertemuan Menteri Pertanian, Jakarta, Rabu (23/9/2026). Dalam pertemuan itu juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) terkait pengembangan gerakan penanaman pohon kelapa berbasis masjid dan mushala.
Salah satu gagasan strategis yang dibahas adalah Gerakan “1 Masjid 1 Ha”, yakni gerakan nasional yang mendorong pemanfaatan lahan produktif di sekitar masjid dan mushala untuk pengembangan tanaman kelapa.
Program tersebut tidak semata diarahkan pada kegiatan penanaman pohon, tetapi dirancang sebagai bagian dari ekosistem pemberdayaan masyarakat. Di dalamnya mencakup keterlibatan pemuda dan remaja masjid, guru mengaji Al-Qur’an, imam, muadzin, marbot hingga masyarakat sekitar.
Ketua Umum DPP BKPRMI H. Nanang Mubarok, SHI., M.Sos., mengatakan konsep tersebut dibangun dengan mempertimbangkan kondisi setiap daerah. Menurutnya, tidak semua masjid memiliki lahan satu hektare sehingga pelaksanaannya dapat dilakukan melalui kemitraan dengan masyarakat, pemerintah daerah, pesantren maupun pemilik lahan lainnya.
“Kita tidak mengatakan bahwa setiap masjid hari ini sudah memiliki satu hektare lahan. Yang kita bangun adalah gerakan dan model pemberdayaannya,” ujar Nanang.
Ia menjelaskan, masjid diharapkan menjadi simpul pemberdayaan masyarakat, sementara pola pemanfaatan lahannya disesuaikan dengan potensi dan kondisi lokal masing-masing wilayah.
Berdasarkan data Sistem Informasi Masjid (SIMAS) Kementerian Agama, terdapat 317.733 masjid dan 392.656 mushala yang terdaftar secara nasional. Dengan total 710.389 tempat ibadah tersebut, BKPRMI melihat adanya jaringan sosial yang besar untuk dikembangkan menjadi basis gerakan pemberdayaan masyarakat.
Namun, BKPRMI menegaskan angka tersebut merupakan gambaran potensi skala gerakan, bukan klaim bahwa seluruh masjid dan mushala telah memiliki lahan seluas satu hektare. Karena itu, pemetaan lahan, kesiapan sumber daya manusia, kelembagaan dan kemitraan menjadi tahapan penting sebelum program dikembangkan.
Ketua DPP BKPRMI Bidang Pangan, Agrikultur dan Lingkungan Hidup, Abdurrahman, ST., menegaskan Gerakan “1 Masjid 1 Ha” tidak boleh berhenti pada kegiatan simbolis berupa penanaman bibit.
“Kita tidak ingin hanya menanam pohon. Kita ingin menanam ekosistem. Ada pemuda yang mengelola, ada masyarakat yang terlibat, ada proses produksi, ada pengolahan, ada pasar, dan ada manfaat yang kembali kepada umat,” tegasnya.
Karena itu, program tersebut diarahkan mencakup seluruh rantai kegiatan, mulai dari pemetaan lahan, penyediaan bibit, budidaya dan pemeliharaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, panen, pengolahan produk turunan hingga pemasaran.
Dalam pengembangan komoditas kelapa, peluang hilirisasi dinilai cukup luas. Produk turunannya antara lain minyak kelapa murni atau VCO, santan, gula kelapa, nata de coco, arang dan briket tempurung, cocopeat, serat sabut serta berbagai produk pangan dan kosmetik.
“Artinya, pohon kelapa bukan hanya menghasilkan buah. Ada banyak peluang ekonomi yang dapat dikembangkan setelah produk masuk ke proses hilirisasi,” ujar Abdurrahman.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP BKPRMI Jailani Dalimunte, SH., menekankan pentingnya pelaksanaan program secara bertahap agar gerakan tersebut tidak berhenti setelah seremoni penanaman.
“Kita harus belajar dari pengalaman. Jangan hanya ramai ketika menanam, kemudian tidak ada yang merawat. Karena itu, setiap lokasi harus memiliki pengelola, rencana bisnis, pendampingan dan indikator keberhasilan,” katanya.
Menurut Jailani, keberhasilan program tidak cukup diukur berdasarkan jumlah bibit yang disalurkan. Hal yang lebih penting adalah tingkat keberlangsungan tanaman, keterlibatan pemuda, pertumbuhan usaha serta manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat.
1 / 1
Tonton Juga Serial Pendek
👇👇👇
🖤Lagu Viral Pesta Babi**🖤
“Ukuran keberhasilannya adalah berapa tanaman yang hidup dan produktif, berapa pemuda yang terlibat, berapa usaha yang tumbuh, berapa masyarakat yang memperoleh manfaat dan sejauh mana program bisa mandiri,” ujarnya.
BKPRMI juga menempatkan pemuda dan remaja masjid sebagai salah satu kekuatan utama dalam pelaksanaan gerakan tersebut. Pemuda diharapkan tidak hanya menjadi pelaksana kegiatan keagamaan, tetapi juga memperoleh ruang untuk berkembang sebagai pelaku ekonomi.
Nanang mengatakan, guru ngaji, imam, muadzin dan marbot juga perlu mendapatkan ruang pemberdayaan melalui program yang produktif dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah.
“Pemuda masjid jangan hanya menjadi pelaksana kegiatan seremonial. Mereka harus menjadi pelaku ekonomi. Guru ngaji, imam, muadzin dan marbot juga harus mendapatkan ruang pemberdayaan agar masjid menjadi ekosistem yang memberikan manfaat nyata bagi mereka,” katanya.
Konsep tersebut kemudian ditempatkan sebagai bagian dari GERBANG EMAS atau Gerakan Bangun Ekonomi Masjid yang dikembangkan BKPRMI. Program ini mendorong masjid menjadi pusat ketahanan pangan, UMKM, koperasi, kewirausahaan pemuda, ZISWAF produktif dan penguatan ekonomi masyarakat.
“Masjid yang makmur bukan hanya masjid yang ramai jamaahnya. Masjid yang makmur adalah masjid yang mampu menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat di sekitarnya,” ujar Nanang.
Selain aspek ekonomi, Gerakan “1 Masjid 1 Ha” juga membawa misi lingkungan. Penanaman pohon diharapkan dapat membangun kesadaran ekologis, khususnya di kalangan generasi muda, sekaligus menghubungkan sektor pertanian dengan upaya pelestarian lingkungan.
“Anak-anak muda harus kita ajarkan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar isu global. Menanam pohon adalah bagian dari ibadah sosial. Ketika pohon itu tumbuh, memberikan manfaat dan menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat, maka ada nilai keberlanjutan yang kita bangun,” jelas Nanang.
Dalam kerja sama tersebut, BKPRMI membawa jaringan kepemudaan masjid yang tersebar mulai dari tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan hingga desa dan kelurahan. Sementara Kementerian Pertanian memiliki kapasitas kebijakan dan teknis dalam pengembangan sektor pertanian.
Kolaborasi kedua pihak diharapkan dapat mencakup edukasi, pendampingan, pengembangan sumber daya manusia, penyediaan bibit, pengelolaan lahan, budidaya, kelembagaan, peremajaan tanaman, hilirisasi hingga akses pasar sesuai kesepakatan dan kewenangan masing-masing.
Bagi BKPRMI, gerakan tersebut merupakan upaya memperluas fungsi masjid sebagai pusat pembinaan umat. Masjid diharapkan dapat menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda, pusat kegiatan sosial, sekaligus tempat masyarakat membangun kemandirian ekonomi.
“Gerakan ini mengajarkan kepada kita tentang kesabaran dan keberlanjutan. Kita menanam hari ini, tetapi manfaatnya bisa dirasakan oleh generasi yang akan datang,” tutur Nanang.
Ia menambahkan, program tersebut harus dibangun dari hulu hingga hilir agar hasil pertanian tidak berhenti pada produksi, tetapi mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
“Jangan sampai kita hanya pandai menanam, tetapi tidak mampu merawat. Jangan hanya mampu menghasilkan, tetapi tidak mampu mengolah dan memasarkannya. Kita ingin membangun ekosistem dari hulu sampai hilir,” tambahnya.
Dengan demikian, Gerakan “1 Masjid 1 Ha” diposisikan bukan sekadar sebagai program penanaman kelapa, melainkan sebagai upaya membangun model Masjid Produktif, Masjid Hijau dan Masjid Mandiri yang dapat dikembangkan secara bertahap di berbagai daerah.
“Dari masjid kita tanam pohon. Dari pohon kita tumbuhkan ekonomi. Dari ekonomi kita bangun kemandirian. Dari kemandirian kita kuatkan umat,” pungkas Nanang.
Tim DPP BKPRMI dalam pertemuan tersebut dipimpin Ketua Umum H. Nanang Mubarok, SHI., M.Sos., didampingi Ketua Bidang Pangan, Agrikultur dan Lingkungan Hidup Abdurrahman, ST., Ketua Bidang Riset, Kajian Strategis dan Inovasi Harianto Albar, ST., MM., Sekretaris Jenderal Jailani Dalimunte, SH., serta Wasekjen Nurfadilla.
Melalui sinergi dengan Kementerian Pertanian, BKPRMI berharap gerakan tersebut dapat berkembang menjadi gerakan pemberdayaan yang berkelanjutan, dengan menjadikan masjid sebagai salah satu pusat penguatan ekonomi umat, ketahanan pangan, kepedulian lingkungan dan pembinaan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.