Melanesiatimes.com, Masohi Maluku Tengah — Bupati Maluku Tengah (Malteng) Zulkarnain Awat Amir, SP., M.AP., membuka Seminar Nasional Pendidikan Inklusi yang digelar di Kota Masohi, Sabtu (15/8/2026).
Seminar tersebut mengusung tema “Mendidik dengan Kesadaran: Memahami Diri, Memahami Anak (Paradigma Neurohumanistik) dan Membangun Ekosistem Pendidikan yang Bertumbuh.”
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber dari perguruan tinggi di Indonesia, yakni Prof. Dr. Syihabudin, M.Pd., dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Dr. Ranti Novianti dari Universitas Negeri Malang.
Seminar turut dihadiri sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, insan pendidikan, pemerhati pendidikan, mahasiswa, serta peserta seminar lainnya.
Kegiatan tersebut terselenggara berkat kolaborasi mahasiswa KKN-PPM Universitas Darussalam Ambon, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Maluku Tengah, serta CANA. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pengembangan pendidikan inklusif di daerah.
Dalam sambutannya yang disampaikan oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kabupaten Maluku Tengah, Eliezer Istia, Bupati Zulkarnain mengatakan bahwa pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar membuat anak mengetahui sesuatu, tetapi juga membantu mereka tumbuh menjadi manusia yang utuh.
Menurutnya, setiap anak memiliki latar belakang, karakter, kemampuan, pengalaman, kebutuhan, dan potensi yang berbeda. Karena itu, sistem pendidikan harus mampu menghargai keberagaman sekaligus memberikan ruang bagi setiap anak untuk berkembang secara optimal.
“Pendidikan inklusi tidak boleh kita pahami hanya sebagai pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Pendidikan inklusi adalah cara pandang bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk diterima, dihargai, dilayani, didampingi, dan diberikan kesempatan untuk berkembang secara optimal,” kata Zulkarnain sebagaimana disampaikan Eliezer.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan neurohumanistik dalam proses pendidikan. Menurutnya, sebelum memahami anak, seorang pendidik perlu terlebih dahulu memahami dirinya sendiri.
“Guru perlu menyadari bahwa emosi, cara berpikir, pengalaman, dan respons dirinya dapat memengaruhi proses belajar peserta didik,” ujarnya.
Zulkarnain menjelaskan, anak yang mengalami kesulitan belajar tidak selalu berarti malas. Begitu pula anak yang sulit berkonsentrasi tidak serta-merta berarti tidak mampu. Sementara anak yang menunjukkan perilaku berbeda juga tidak selalu berarti bermasalah.
“Bisa jadi, mereka sedang membutuhkan cara pendekatan yang berbeda, perhatian yang lebih, lingkungan yang aman, serta seorang guru yang mau memahami sebelum menghakimi,” ucapnya.
Ia menegaskan, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembentuk lingkungan psikologis tempat anak bertumbuh. Kalimat yang disampaikan seorang guru dapat membangun kepercayaan diri seorang anak. Sebaliknya, perkataan yang keliru juga berpotensi meninggalkan dampak panjang dalam kehidupan anak.
Karena itu, para pendidik diharapkan mampu membangun sekolah sebagai ruang yang aman, ramah, inklusif, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik.
Di tengah penyampaian sambutannya, Bupati Zulkarnain mengakui bahwa Kabupaten Maluku Tengah memiliki tantangan geografis dan sosial yang tidak sederhana. Luas wilayah serta kondisi kepulauan menjadi tantangan tersendiri dalam menghadirkan layanan pendidikan yang merata.
Meski demikian, kata dia, keterbatasan geografis tidak boleh menjadi alasan untuk membatasi hak anak dalam memperoleh pendidikan yang bermutu dan berkeadilan.
“Pendidikan inklusi harus menjadi bagian dari semangat kita untuk menghadirkan pendidikan yang merata, berkualitas, berkeadilan, dan manusiawi di seluruh wilayah Kabupaten Maluku Tengah,” tegasnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, satuan pendidikan, guru, orang tua, masyarakat, perguruan tinggi, organisasi pendidikan, hingga mahasiswa KKN-PPM Universitas Darussalam Ambon, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Maluku Tengah, serta CANA.
Bupati Malteng berharap seminar nasional tersebut tidak berhenti pada diskusi dan pemahaman di ruang seminar, tetapi dapat diterjemahkan ke dalam praktik nyata di setiap satuan pendidikan.
Hal itu dapat diwujudkan melalui cara guru berkomunikasi dengan peserta didik, memahami perilaku anak, memberikan kesempatan belajar yang setara, serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan mendukung perkembangan setiap anak.
“Setiap anak adalah manusia yang berharga, setiap anak memiliki potensi, dan setiap anak berhak untuk bertumbuh,” kata Zulkarnain.
Seminar Nasional Pendidikan Inklusi tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan bertumbuh di Kabupaten Maluku Tengah.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi dan kolaborasi berbagai pihak dalam mewujudkan pendidikan yang merata, berkualitas, berkeadilan, dan manusiawi bagi seluruh anak di Maluku Tengah. (HUAT)