Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Tokoh muda Moi yang juga merupakan mahasiswa, Risal Su, ST, angkat bicara terkait proyek pembangunan talud di sekitar lampu merah Kilometer 10, tepatnya mulai dari depan Paragon hingga Kali Klawuyut, depan Batalyon Km 10, Kota Sorong.
Kepada media ini, Risal menilai berbagai kritik terhadap proyek tersebut sah-sah saja, namun harus disampaikan secara rasional dan berbasis kajian. Ia menegaskan bahwa penilaian terhadap pekerjaan konstruksi tidak boleh dilakukan secara asal.
“Kritik dan saran itu baik adanya, tapi harus rasional dan berbasis kajian intelektual soal konstruksi beton, bukan asal-asalan dalam memberikan penilaian,” ujar Risal pada Kamis (22/01/2026).
Ia meyakini bahwa pekerjaan talud tersebut telah dikerjakan sesuai standar. Menurutnya, dari sisi material dan metode pekerjaan, proyek itu telah memenuhi ketentuan teknis.
“Kalau dilihat dari rangka dan material lainnya, saya yakin sudah memenuhi syarat dan standar pekerjaan beton,” katanya.
Risal juga mengingatkan peran penting media dalam menyampaikan informasi kepada publik. Ia berharap insan pers tetap mengedepankan prinsip jurnalistik, terutama kelengkapan unsur 5W+1H dalam setiap pemberitaan.
“Saya berharap teman-teman media profesional dalam menyajikan kronologis atau topik pemberitaan, minimal fokus pada 5W+1H. Media punya peran penting dalam menjaring dan menyampaikan informasi, apalagi di era digital saat ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Risal menyinggung visi dan misi Wali Kota Sorong Septinus Lobat bersama Wakil Wali Kota Hi. Ansar Karim. Ia menilai kepemimpinan keduanya patut didukung, mengingat Wali Kota Sorong merupakan putra asli Moi yang memahami kondisi dan kebutuhan daerah.
“Wali Kota Sorong adalah putra asli Moi yang tahu isi dan jantung Kota Sorong. Beliau bukan orang yang datang lalu menumpang, jadi apa pun yang dilakukan pasti untuk tanah Moi, Kota Sorong, demi pembangunan jangka panjang ke depan,” tegasnya.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung kebijakan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Sorong, termasuk kinerja Dinas Bina Marga yang menangani proyek tersebut.
“Mari kita semua dukung kebijakan Bapak Wali Kota Sorong, Hi. Ansar Karim, serta dinas terkait yang ditunjuk untuk menangani pekerjaan ini,” ucap Risal.
Terkait papan informasi proyek yang sempat dipersoalkan, Risal menjelaskan bahwa papan nama dan nilai kontrak sebenarnya telah dipasang sejak awal pekerjaan. Namun, karena posisinya terlalu dekat dengan bahu jalan dan tidak memungkinkan, papan tersebut kemudian dibongkar oleh dinas terkait.
“Soal papan nama proyek dan nilai kontrak sebenarnya sudah terpampang saat pekerjaan dimulai. Hanya saja karena terlalu mepet dengan bahu jalan dan tidak ada tempat, sehingga dibongkar oleh dinas terkait,” jelasnya.
Risal mengajak masyarakat untuk melihat pembangunan Kota Sorong secara lebih objektif. Ia menilai perubahan mulai terlihat, khususnya di sektor kebersihan dan pendidikan.
“Saat ini Sorong sudah mulai berbenah. Wajah pembangunan kota sedikit demi sedikit sudah mulai terlihat. Kebersihan dan pendidikan juga sudah mulai dirasakan oleh masyarakat Kota Sorong, tanah Moi yang kita cintai bersama,” tutup Risal.