Melanesiatimes.com, Kota Sorong — Rencana relokasi pedagang pasar di Kota Sorong untuk sementara ditunda. Badan Anggaran (Banggar) DPRK Kota Sorong meminta Pemerintah Kota Sorong melalui Dinas Perdagangan terlebih dahulu memastikan lokasi relokasi benar-benar siap menampung seluruh pedagang sebelum proses pemindahan dilakukan.
Pernyataan ini disampaikan oleh anggota banggar usai penutupan Rapat Paripurna Ke VIII di kantor DPRK Kota Sorong, Kamis (1/10/2026).
Anggota Banggar DPRK Kota Sorong, Rinoldy Rumfeka, mengatakan penundaan tersebut dilakukan bukan untuk membatalkan program relokasi, melainkan memberikan kesempatan kepada pemerintah untuk menyusun perencanaan yang lebih matang.
Menurut Rinoldy, salah satu persoalan utama yang menjadi perhatian Banggar adalah kesesuaian antara jumlah pedagang dengan kapasitas lapak yang tersedia di lokasi relokasi.
“Kami ingin relokasi itu bisa mengakomodasi seluruh data jumlah lapak dan jumlah pedagang yang kami terima. Kalau hanya sebagian yang diakomodasi, itu justru bisa menimbulkan polemik di lapangan,” kata Rinoldy.
Ia mengatakan, berdasarkan data Dinas Perdagangan, jumlah pedagang yang harus diakomodasi mencapai sekitar 3.000 lebih. Karena itu, fasilitas di lokasi relokasi harus disiapkan sesuai kebutuhan agar tidak ada pedagang yang tertinggal ketika proses pemindahan dilakukan.
Lokasi yang disiapkan sebagai tempat relokasi, yakni kawasan depan Jupiter dan samping Gota, juga dinilai masih membutuhkan sejumlah pembenahan sebelum dapat digunakan secara optimal.
Rinoldy menegaskan, relokasi tidak boleh dilakukan secara terburu-buru. Pemerintah perlu memastikan seluruh kebutuhan pedagang tersedia sehingga aktivitas ekonomi mereka tetap berjalan setelah dipindahkan.
“Relokasi harus disiapkan secara matang, semua jumlah lapak sesuai data harus diakomodasi. Setelah itu baru dilakukan mitigasi kepada pedagang untuk pindah dan menjalankan aktivitas ekonominya di sana,” ujarnya.
Senada dengan itu, anggota Tim Banggar DPRK Kota Sorong, Syarif Nari, mengatakan kondisi fisik lokasi relokasi saat ini masih membutuhkan pembenahan.
1 / 1
Tonton Juga Serial Pendek
👇👇👇
🖤Lagu Viral Pesta Babi**🖤
Menurutnya, bangunan yang tersedia belum sepenuhnya siap digunakan sebagai pasar sementara karena masih dalam tahap pembangunan awal.
“Bangunan yang ada saat ini baru sebatas tiang empat. Jadi perlu diberi kesempatan untuk memperbaiki dan menyempurnakan bangunan tersebut agar pada saat relokasi dilakukan, tempatnya sudah benar-benar siap,” kata Syarif.
Ia menyebut sejumlah fasilitas perlu disiapkan, mulai dari los pedagang, dinding atau pintu hingga lantai. Penataan tersebut penting agar para pedagang dapat berjualan dengan kondisi yang lebih layak selama menunggu pembangunan Pasar Sentral selesai.
Selain fasilitas, penataan pedagang juga perlu dilakukan secara transparan. Syarif mengatakan setiap pedagang nantinya perlu mengetahui lokasi los masing-masing, termasuk melalui mekanisme pengundian atau lotre.
“Setiap pedagang harus mengetahui los masing-masing. Itu bagian dari persiapan supaya relokasi nanti bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.
Banggar DPRK Kota Sorong juga mempertimbangkan aspek penganggaran. Usulan anggaran relokasi dan pembangunan Pasar Sentral yang sebelumnya diajukan dalam APBD Perubahan dinilai perlu ditinjau kembali karena waktu pelaksanaan yang tersedia cukup terbatas.
“Anggaran yang diajukan dalam dua bulan ini kemungkinan tidak akan selesai diserap. Karena itu perlu dikaji ulang dan nanti kita bahas setelah APBD Induk untuk pembangunan tahun 2027,” jelas Syarif.
Rinoldy menambahkan, usulan anggaran tersebut akan kembali dibahas dalam penyusunan APBD Induk 2027. Dengan demikian, pemerintah memiliki waktu untuk memperbaiki perencanaan dan memastikan seluruh kebutuhan relokasi telah tersedia.
“Ini bukan dibatalkan secara permanen. Kami hanya minta ditunda supaya Dinas Perdagangan menyiapkan semuanya dengan matang,” tegasnya.
Setelah lokasi relokasi dinilai siap dan seluruh pedagang dapat dipindahkan, pembangunan Pasar Sentral baru dapat dilanjutkan. Banggar berharap tahapan tersebut dilakukan secara berurutan agar tidak terjadi pekerjaan yang tumpang tindih.
“Pedagang dimitigasi dulu secara keseluruhan, relokasi disiapkan, semua lapak tersedia. Setelah itu baru pembangunan Pasar Sentral dilakukan,” pungkas Rinoldy.