Melanesiatimes.com, Masohi Maluku Tengah – Komoditi jagung masih menjadi primadona jelang malam pergantian tahun di Kota Masohi. Hal tersebut tak lepas dari kebiasaan sebagian besar masyarakat yang gemar menikmati jagung bakar di saat malam pergantian tahun. Rabu (31/12/2025).
Di lain sisi, situasi ini jelas membawa keuntungan bagi petani jagung, seperti yang dialami para petani di Dusun Huameteno Kilometer 10 Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah.
Mereka (petani jagung di Dusun Huameteno) diketahui merupakan yang paling banyak menyuplai jagung terutama ke wilayah Kota Masohi yang menjadi pusat keramaian saat malam puncak nanti.
“kami banyak menerima pembeli yang kebanyakan berjualan di Kota Masohi. Selain itu ada pula yang memesan dari kami untuk kebutuhan jagung ke wilayah Seram Utara,” ungkap Hanafi kepada wartawan di lokasi panen.
Di lahan jagungnya, Pribadi yang dikenal sebagai ustadz ini juga menjelaskan jika di akhir tahun 2025 permintaan akan jagung semakin tinggi kalau dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Kata ia “tahun ini permintaan pasar sangat tinggi, dan Alhamdulillah kami bisa memenuhi kebutuhan konsumen,” ucapnya.
“sebenarnya tahun kemarin juga permintaan banyak namun kendalanya ada pada petani sebab lahan kami diterpa banjir. Sehingga kami tak dapat memenuhi permintaan pasar. Alhamdulillah tahun ini bisa,” tambah Hanafi.
Hanafi juga menyebut “rata-rata dari kami para petani jagung bahkan bisa menjual hingga 30 karung sekali panen dan beberapa orang ada yang sampai 60 karung sekali panen,” jelas Hanafi.
Hal senada juga disampaikan oleh Husen Latue (Kepala Dusun Huameteno Kilometer 10 Kecamatan Amahai) bahwa kebutuhan jagung di akhir tahun sudah menjadi langganan bagi petani dalam mempersiapkan kebutuhan itu dengan menghitung waktu tanam hingga panen tiba.
Menurutnya, hal tersebut diperhitungkan dengan sangat tepat oleh petani agar saat panen tiba bisa tepat dengan kebutuhan pasar untuk stok jagung di malam pergantian tahun.
“para petani di sini khusus untuk kebutuhan malam tahun baru sudah bisa disiapkan masa panennya berlangsung sejak tanggal 29, 30, dan 31 Desember dengan waktu tanam yakni pada Bulan Oktober,” jelas Kepala Dusun ini menerangkan.
Dari segi harganya pun relatif tergantung pada waktu pengambilan. “kalau semakin dekat tahun baru bisa agak mahal, begitupun kalau membeli 3 hari sebelum tahun baru bisa lebih murah,” tambah Hanafi.
Saat ditanya mengenai besaran keuntungan yang diperoleh, Hanafi menyampaikan “intinya jika pembeli datang kepada kami di tanggal 28 Desember harganya bisa Rp. 250.000/karung. Tapi kalau sudah semakin dekat tahun baru, harganya bisa Rp. 300.000 hingga Rp. 500.000 untuk malam puncaknya,” jelas Hanafi.
Sehingga, lanjut ia “kalau petani yang menjual rata-rata 30 karung dengan harga Rp. 250.000/karungnya maka mereka bisa memperoleh Rp. 7.500.000 setiap kali panen,” sambung Hanafi.
Jika dihitung berdasarkan perbedaan harga pasar, maka petani yang menjual jagungnya diangka Rp. 350.000/karung dengan rata-rata 30 karung bisa memperoleh keuntungan sebesar Rp. 10.500.000.
Dan Rp. 15.000.000 hingga Rp. 20.000.000 bagi petani yang menjual sebanyak 60 karung sekali panen.
Sampai berita ini dimuat, penjualan jagung yang dilakukan oleh para petani di Dusun Huameteno Kilometer 10 Kecamatan Amahai masih terus berlanjut seiring kedatangan para pembeli yang masih terus ada.
Dan diperkirakan, permintaan jagung masih bisa terjadi di malam puncak dan bukan tidak mungkin harganya bisa mencapai Rp. 500.000/karung. (HUAT)