Melanesiatimes.com, Sorong Selatan – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Pekabaran Injil (HUT PI) ke-99 di Tanah Tehit, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Tehit Kabupaten Sorong Selatan, Altius Y. Thesia, S.IP., M.Tr.IP, mengajak seluruh masyarakat Tehit, baik yang berada di Sorong Selatan maupun di seluruh Tanah Papua, untuk memaknai momentum sejarah ini sebagai dasar memperkuat persatuan dan komitmen menuju perayaan satu abad masuknya Injil pada 27 Januari 2027.
Altius menjelaskan bahwa Injil pertama kali masuk ke Tanah Tehit melalui dua guru Injil, yakni Matatula dan Yotleli. Keduanya tiba pada 27 Januari 1927 dengan menggunakan KM Jong Holland dari Resord/Zendeling Inanwatan, dan memulai penginjilan di Kampung Wersar dan Kampung Teminabuan.
“Injil masuk ke Tanah Tehit pada 27 Januari 1927 melalui Guru Injil Matatula dan Yotleli yang memulai penginjilan di Kampung Wersar dan Teminabuan. Ini adalah tonggak sejarah iman orang Tehit yang harus terus kita jaga dan wariskan,” ujar Altius.
Ia menambahkan, masuknya Injil ke Tanah Tehit tidak terlepas dari peran besar para pemimpin adat pada masa itu, khususnya Raja Anggok atau Agustinus Onim Konjol dan Raja Isak Besi Thesia. Kedua raja tersebut mendorong pengutusan penginjil ke wilayah Tanah Tehit yang pada masa itu masih berada dalam kehidupan penyembahan animisme dan dinamisme.
“Para raja adat saat itu memiliki visi rohani yang kuat. Mereka mendorong pengutusan penginjil ke Tanah Tehit, sehingga terang Injil boleh masuk dan mengubah kehidupan masyarakat,” katanya.
Berkat pengutusan tersebut, Injil kemudian bertumbuh dan menyebar dari wilayah pesisir, lembah, hingga pegunungan di daratan Teminabuan. Penyebaran itu terus meluas hingga ke wilayah A3 atau Maybrat saat ini, pesisir Beraur, bahkan sampai ke Klamono di Tanah Moi Klabra, Kabupaten Sorong, yang dibawa oleh para penginjil pribumi dari Suku Tehit.
“Setelah menerima pengajaran Injil, para penginjil pribumi dari Suku Tehit melanjutkan panji-panji kebenaran itu ke berbagai wilayah. Ini menunjukkan bahwa orang Tehit bukan hanya penerima Injil, tetapi juga menjadi pembawa Injil,” jelas Altius.
Menurutnya, perayaan HUT PI ke-99 di Tanah Tehit tahun ini harus dimaknai sebagai momentum penyatuan konsep dan komitmen seluruh masyarakat Tehit untuk melangkah bersama menuju perayaan satu abad masuknya Injil pada tahun 2027.
“Perayaan 99 tahun ini adalah saat yang tepat bagi kita semua untuk menyatukan konsep dan komitmen, agar satu tahun ke depan kita benar-benar siap menyongsong perayaan satu abad Injil masuk di Tanah Tehit,” tegasnya.
Ia juga menyinggung bahwa kepemimpinan Kabupaten Sorong Selatan saat ini yang dipimpin oleh putri asli Suku Tehit, Petronela Krenak, S.Sos., M.Tr.AP, merupakan salah satu buah nyata dari berkat Injil bagi masyarakat Tehit.
“Hari ini, Sorong Selatan dipimpin oleh putri asli Suku Tehit. Ini adalah salah satu buah berkat Injil yang nyata bagi kita. Injil telah mengubah peradaban, cara berpikir, dan melahirkan generasi pemimpin,” ungkap Altius.
Menutup pernyataannya, Ketua LMA Tehit mengajak seluruh masyarakat adat untuk memaknai perayaan HUT PI ke-99 pada 27 Januari 2026 dengan penuh sukacita melalui ibadah dan ucapan syukur, sembari mempersiapkan perayaan akbar satu abad Injil di Tanah Tehit tahun depan.
“Mari kita maknai HUT PI ke-99 ini dengan ibadah yang penuh sukacita, memuji Tuhan, dan melangkah bersama menuju perayaan satu abad Injil di Tanah Tehit. Masyarakat adat memiliki peran penting dalam sejarah ini dan tetap menjadi bagian utama dalam perjalanan iman orang Tehit,” pungkasnya.