Melanesiatimes.com, Kabupaten Maybrat – Dalam rangka memperingati Hari Pekabaran Injil (PI) di Bumi A3 yang pertama kali terjadi pada 17 Januari 1937, umat Kristen di wilayah Ayamaru, Aifat dan Aitinyo (A3), Kabupaten Maybrat, menggelar ibadah syukur serentak di tiga lokasi berbeda, Sabtu (17/1/2026).
Tiga lokasi tersebut merupakan titik napak tilas perjalanan tiga rasul penginjil yang menjadi bagian penting dari sejarah masuknya Injil di wilayah tersebut.
Berdasarkan catatan sejarah, ketiga penginjil memulai perjalanan dari Kampung Baru Kais, kemudian sempat beristirahat di Dusun Hore-Hore. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke Dusun Ikowok sebelum akhirnya tiba di Aitinyo, Johromo, yang pada masa pemerintahan Belanda merupakan pos pemerintahan yang dipimpin oleh Bestur Manuputi.
Momentum bersejarah itu kini dikenang melalui pelaksanaan ibadah syukur di masing-masing lokasi secara bersamaan. Peringatan HUT PI ke-89 ini tidak hanya menjadi perayaan rohani, tetapi juga ruang refleksi bersama bagi seluruh elemen masyarakat, pemerintah, dan gereja di tanah Maybrat.
Ir. Dance Nauw, SP, M.Si, salah satu anak guru Injil dan generasi pertama, menegaskan bahwa peringatan Pekabaran Injil harus dimaknai lebih dari sekadar kegiatan seremonial.
“Sebagai anak guru Injil dan generasi pertama, saya melihat peringatan ini bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi memperkuat identitas iman dan jati diri orang A3,” ujar Ir. Dance Nauw.
Ia menambahkan bahwa sejarah Pekabaran Injil perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda secara benar dan bertanggung jawab.
“Sejarah ini adalah fondasi peradaban orang A3. Kalau kita tidak rawat dengan baik, generasi berikut bisa kehilangan arah dan makna dari Pekabaran Injil itu sendiri,” katanya.
Menurut Ir. Dance, peringatan HUT PI juga harus menjadi momentum untuk membangun kesatuan pandangan tentang sejarah masuknya Injil di Bumi A3.
“Saya berharap ada keseriusan semua pihak, baik gereja, pemerintah, maupun para intelektual, untuk duduk bersama, mengkaji secara ilmiah, lalu menyepakati sejarah Pekabaran Injil sebagai warisan bersama,” tuturnya.
Selain itu Nehaf Sau Bonot Saw sebagai toko masyarakat juga menekankan pentingnya menjadikan peringatan ini sebagai dasar untuk membangun kesepahaman bersama terkait pusat peradaban Bumi A3. Ia mendorong adanya kajian sejarah yang lebih mendalam dan terstruktur.
“Kiranya momentum perayaan HUT Pekabaran Injil ke-89 ini menjadi perenungan dan bahan refleksi bersama bagi pemerintah, gereja, para tokoh intelektual, akademisi, serta generasi Maybrat untuk bersinergi membentuk satu tim independen,” ujar Nehaf.
Ia menjelaskan, tim tersebut diharapkan bertugas melakukan kajian historis, rekonsiliasi, serta seminar bersama agar diperoleh pengakuan dari semua pihak terkait titik atau pusat peradaban orang A3.
“Supaya ke depan tidak lagi ada perbedaan pemahaman dari setiap kelompok yang sampai hari ini masih mempertahankan masing-masing tempat atau pusat perayaan ibadah syukur HUT Pekabaran Injil,” lanjutnya.
Menurut Nehaf, pekerjaan ini merupakan “pekerjaan rumah” besar bagi generasi Maybrat, pemerintah, dan gereja untuk bersama-sama menggumuli dan meluruskan peristiwa historis Pekabaran Injil di Bumi A3, agar dapat diwariskan secara utuh dan benar kepada generasi mendatang.