Melanesiatimes.com, Kota Sorong – DPR Kota Sorong semakin keras menyuarakan perang terhadap dugaan praktik penimbunan dan mafia BBM subsidi yang dituding menjadi biang kerok antrean panjang di sejumlah SPBU.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Pertamina dan pengelola SPBU, Komisi IV DPR Kota Sorong secara tegas mendesak Pemerintah Kota Sorong segera membentuk satuan tugas (satgas) gabungan untuk melakukan pengawasan rutin. Selasa (28/01/2026).
Ketua Komisi IV DPR Kota Sorong, Mohammad Saman Bugis, mengatakan RDP yang melibatkan pimpinan DPR, pihak Pertamina, serta pengelola SPBU, khususnya SPBU Hansen, SPBU Jalan Baru, dan SPBU Sorpus, menghasilkan banyak catatan penting. Fokus utama DPR, kata Saman, adalah penertiban antrean dan pemberantasan penimbunan BBM subsidi.
“Hasil RDP hari ini kami Komisi IV dengan pimpinan DPR bersama pihak Pertamina serta SPBU, terutama tiga SPBU yaitu SPBU Hansen, Jalan Baru, dan Sorpus telah melakukan RDP, Sudah banyak kami memberikan saran masukan, terkait persoalan BBM yang terjadi hari ini,” ujar Saman kepada wartawan.
Ia menegaskan, DPR mendesak agar segera membentuk satgas gabungan yang melibatkan unsur pemerintah, DPR, Pertamina, dan aparat penegak hukum. Satgas ini diharapkan rutin melakukan inspeksi mendadak ke SPBU.
“Untuk penertiban terkait mengenai antrean SPBU ini, kami dari DPR minta agar secepatnya bentuk satgas, satgas gabungannya itu dari Pemerintah Kota Sorong, eksekutif, legislatif, pihak Pertamina, dan aparat penegak hukum, agar setiap bulan kita harus sidak ke setiap SPBU,” tegasnya.
Menurut Saman, praktik penimbunan sudah sangat meresahkan dan berdampak langsung pada kelangkaan serta antrean panjang, terutama untuk Biosolar.
“Mengingat penimbunan-penimbunan SPBU terlalu banyak, terlalu marak di Kota Sorong. Itu mengakibatkan antrean panjang yang ada di tempat pengisian, terutama Biosolar,” katanya.
Ia menyoroti fakta bahwa pasca sidak dan aksi unjuk rasa, kondisi SPBU sempat terlihat lebih lengang. Hal itu, menurutnya, memperkuat dugaan adanya permainan terorganisir.
“Kalau ada sidak-sidak begitu ada, langsung agak redup. Nah itu, karena mafia-mafia minyak ini banyak sekali ada yang bekap-bekap di situ,” ungkap Saman.
Saman menegaskan DPR tidak memiliki kepentingan lain selain memastikan BBM subsidi benar-benar sampai kepada masyarakat yang berhak. Ia juga memperingatkan siapa pun yang terlibat, termasuk bila ada oknum dari lembaga mana pun, akan tetap diproses.
“BBM minyak subsidi ini terutama Solar dan Pertalite harus menyentuh kepada yang menerima. Jadi kalau siapa pun yang bermain di situ kalau kami DPR terlibat di situ maka siapa pun tetap kami angkat. Itu, harus dituntut sesuai dengan undang-undang yang berlaku,” ujarnya.
Saat ditanya apakah DPR akan bersikap tegas terhadap mafia BBM, Saman menjawab lugas.
“Ya kalau menurut saya itu begitu, saya dari Komisi IV dan saya tidak peduli siapa pun di situ. Kami melakukan fungsi kontrol kami sebagai DPR Kota Sorong terutama Komisi IV yang bermitra langsung dengan pihak Pertamina. Dan siapa pun di belakang situ kami akan usut dan angkut,” katanya.
Bahkan jika ada oknum aparat penegak hukum yang terlibat, Saman menegaskan tidak boleh ada kompromi.
“Meskipun Oknum – oknum APH, tetap kita usut mereka, tidak boleh. Ini minyak subsidi, minyak itu harus menyentuh mereka,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Saman juga mengungkap keluhan dari pihak Pertamina yang disebutnya enggan melakukan sidak sendiri karena alasan keamanan.
“Kami meminta agar kita sama-sama sidak di setiap SPBU, tapi dari pihak Pertamina awalnya mereka menyampaikan bahwa dari Pertamina sendiri tidak berani sidak di SPBU terkait mengenai temuan-temuan penimbunan BBM. Mereka takut, alasannya takut faktor keamanan,” bebernya.
Karena itu, DPR menyatakan siap turun langsung mendampingi agar pengawasan bisa berjalan maksimal.
“Makanya itu saya menyampaikan bahwa kalau memang dari pihak Pertamina takut, libatkan kami DPRD karena kami punya fungsi pengawasan, fungsi kontrol. Kami tidak ada kepentingan apa-apa di sini. Kepentingannya adalah rakyat Kota Sorong. Siapa pun Mafia di belakang itu, kami tidak gentar,” tutup Saman Bugis.