RAJA AMPAT, Melanesiatimes.com – Yayasan Mentansan Nusantara Raja Ampat diundang sebagai pemateri dalam pertemuan bersama tujuh delegasi negara sahabat, Rabu, 11 Februari, 2026.
Yayasan Mentasan Nusantara Raja Ampat sendiri di kenal universal dengan pengelolaan The Jetty Mangrove Kali Biru berbasis Community Besic Tourism-nya (CBT).
Cristine Natalia Wijaya, selaku sekretaris mengungkapkan rasa syukur dan bangga serta suatu kehormatan bagi The Jetty Mangrove Kali Biru karena dipercayakan menjadi salah satu contoh pariwisata berbasis konservasi dan pemberdayaan.
“Kali Biru, The Jetty Mangrove menjadi contoh Pariwisata beriringan dengan Konservasi alam dan pemberdayaan masyarakat lokal,” ujar Cristine Natalia Wijaya,
Dalam pertemuan itu, Cristine Natalia Wijaya memaparkan sistem Community Besic Tourism (CBT) atau Pariwisata Berbasis Masyarakat yang diterapkan The Jetty Mangrove.
“Sistem pengelolaan Pariwisata di The Jetty Mangrove, semua yang terlibat di dalamnya adalah bagian dari Masyarakat adat itu sendiri sambil tetap konsisten untuk menjaga alam,” jelas Cristine.
Tak hanya dikenali dengan metode Pariwisata Berbasis Masyarakat. Heroiknya, Yayasan satu ini juga berfokus pada pengembangan SDM melalui sistem pendidikan anak dimulai dari bahasa inggris, publik speaking, dan teknikal skill.
“kami juga fokus pada pemberdayaan perempuan di kampung, melatih skill seperti pembuatan anyaman dan kegiatan komunitas lain yang bisa ditingkatkan,” ujarnya.
Direktur Yayasan Mentansan Nusantara Alfred L. Mentansan menegaskan bahwa Alam merupakan karya Tuhan yang nyata untuk itu patut dijaga dan dilestarikan.
Alfred menambahkan jika pariwisata dikelola dengan baik, dirinya meyakini nilai estetis suatu alam itu tetap asri dan terjaga hingga anak cucu bahkan sampai pada tujuh generasi berikutnya.
The Jetty Mangrove terus bertekad mengembangkan potensi anak-anak dengan mengajarkan berbahasa Inggris Mandarin sehingga menjadi modal generasi untuk terus menjaga dan mengelola pariwisata berbasis konservasi.