Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Milad HMI kali ini bukan sekadar hitungan angka dalam kalender sejarah, melainkan sebuah ujian dialektika bagi HMI Cabang Sorong. Mengusung tema “Antara Tigalisme dan Masa Depan”, kita dipaksa untuk membedah anatomi konflik internal menggunakan pisau analisis intelektual, bukan sekadar sentimen emosional.
Dualisme Dalam Kacamata Patalogi Organisasi.
Secara teoretis, dualisme kepengurusan yang berkepanjangan dapat dipandang sebagai “Patalogi Birokrasi”. Max Weber menekankan bahwa efektivitas organisasi bergantung pada otoritas yang legal-rasional.
Ketika faksionalisme mengaburkan otoritas ini, yang terjadi adalah dekadensi fungsi. Di Sorong, dualisme telah menciptakan “disfungsi struktural” di mana energi organisasi tidak lagi dialirkan untuk mencetak insan kamil, melainkan habis untuk merawat konflik kepentingan.
Jika meminjam pemikiran Thomas Khun tentang pergeseran paradigma, HMI Cabang Sorong sedang mengalami krisis paradigma. Paradigma lama yang berbasis pada “politik klaim” harus segera diruntuhkan untuk memberi jalan bagi paradigma baru yang berbasis pada “politik gagasan”.
Menjadi Intelektual Organik.
Antonio Gramsci memperkenalkan konsep Intelektual Organik_ Sosok yang tidak hanya berteori di menara gading, tetapi menyatu dengan aspirasi rakyatnya. HMI Cabang Sorong memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi intelektual organik di tengah Provinsi Baru, Provinsi Papua Barat Daya.
Namun, bagaimana mungkin kita bisa menjadi penyambung lidah rakyat jika narasi internal kita masih terfragmentasi? Dua bahkan Tigalisme adalah tembok yang memisahkan kader dari realitas sosial.
Ketika faksi-faksi sibuk berdebat tentang siapa ketua yang sah, sehingga kompleksitas isu sosial seperti isu perampasan hak adat, disparitas pendidikan, kemiskinan dan kekerasan perempuan kini luput dari radar advokasi kita. Kita sedang mengalami apa yang disebut Alienasi Organisai atau terasing dari tujuan suci pendirian HMI itu sendiri.
Dialektika Menuju Sintesa Masa Depan.
Dalam logika Hegel, sejarah bergerak melalui tesis, antitesis, dan sintesa.
Tesis : Kejayaan HMI di masa lalu sebagai kawah candra.
Antitesis: Realitas dualisme bahkan Tiga, hari ini yang memecah belah kekuatan.
Sintesa: Rekonsiliasi intelektual yang melahirkan HMI yang modern, bersatu, dan relevan.
Masa depan HMI Cabang Sorong menuntut “Intelektual Profetik” (meminjam istilah Kuntowijoyo)—intelektual yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki etika transendental untuk melakukan perubahan (humanisasi, liberasi, dan transendensi). Rekonsiliasi bukan sekadar kompromi politik, melainkan sebuah keharusan moral untuk menyelamatkan martabat hijau-hitam.
Melampaui Ego Struktural.
Milad ini adalah ajakan untuk melakukan dekonstruksi terhadap ego-ego personal. Jika kita gagal melakukan unifikasi, maka kita sedang melakukan “Bunuh Diri Sejarah”.
Masa depan HMI Cabang Sorong tidak membutuhkan dua atau tiga HMI yang lemah; ia membutuhkan satu HMI yang tangguh dan cerdas secara intelektual. Mari kita sudahi musim gugur perselisihan ini, dan mulailah merawat tunas-tunas intelektualitas yang akan berbakti bagi umat dan bangsa di Tanah Malamoi.
Penulis : Warto Warman
(Alumni HMI)