Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Wali Kota Sorong, Septinus Lobat, SH, MPA, meresmikan Gedung Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) serta menyerahkan uatu unit mobil operasional Unit Pengolah Darah di Rumah Sakit Sele Be Solu, Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, pada Rabu (11/02/2026).
Peresmian ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Sorong dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Dalam keterangannya saat wawancara Wali Kota Sorong menyampaikan bahwa peresmian tersebut mencakup sejumlah fasilitas penting yang dibangun melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun anggaran 2025. “Hari ini kita ada beberapa agenda penting. Di sini kita meresmikan gedung rawat inap standar yang sudah dibangun tahun anggaran 2025 kemarin dari dana DAK,” ujar Septinus Lobat.
Selain Gedung Kelas Rawat Inap Standar, Pemerintah Kota Sorong juga meresmikan ruang perawatan VIP yang diperuntukkan bagi pasien kelas VIP di RS Sele Be Solu. Menurut Wali Kota, fasilitas ini dihadirkan untuk memberikan pilihan layanan kesehatan yang lebih representatif bagi masyarakat Kota Sorong.
Tak hanya itu, fasilitas Unit Transfusi Darah juga resmi dioperasikan bersamaan dengan penyerahan satu unit mobil operasional pendukung. Wali Kota Sorong mengajak masyarakat yang memenuhi syarat untuk ikut berpartisipasi sebagai pendonor darah.
“Sekarang kita sudah punya gedung untuk transfusi darah dan sudah dilengkapi dengan alat-alat kesehatan. Jadi kalau teman-teman serta masyarakat yang bisa menyumbangkan darah, silakan datang ke gedung ini,” katanya.
Septinus Lobat menjelaskan bahwa sebelumnya RS. Sele Be Solu belum memiliki gedung khusus untuk pelayanan transfusi darah. Namun kini, seluruh sarana dan prasarana pendukung telah tersedia dan siap digunakan. Ia juga memastikan kesiapan sumber daya manusia untuk mengoperasikan fasilitas tersebut.
“Tadi saya tanya dokter, untuk SDM-nya sudah siap. Kita punya dokter-dokter ahli dan dokter spesialis yang siap menggunakan fasilitas ini,” ungkapnya.
Menurutnya, peningkatan sarana dan prasarana RS. Sele Be Solu akan terus dilakukan secara bertahap seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk di Kota Sorong. “Dari tahun ke tahun kita usahakan prasarana dan sarana rumah sakit ini terus kita tingkatkan, karena penduduk Kota Sorong terus bertambah,” jelasnya.
Ia mengakui bahwa keterbatasan anggaran daerah menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah kota. Namun, upaya maksimal tetap dilakukan untuk menjawab kebutuhan layanan kesehatan masyarakat. “Dengan kondisi anggaran yang sangat kecil, pemerintah kota tidak bisa diam. Kalau hanya mengandalkan APBD memang agak susah,” ujar Wali Kota.
Wali Kota Sorong pun memberikan apresiasi kepada jajaran RS. Sele Be Solu atas kerja keras mereka dalam mengupayakan pendanaan pembangunan melalui Dana Alokasi Khusus. “Saya bersyukur karena teman-teman di Sele Be Solu ini melobi dana DAK. Ini hasil dari DAK dan dibangun semua fasilitas ini,” katanya.
Septinus Lobat menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pembangunan dan peningkatan fasilitas RS Sele Be Solu. “Hari ini kita bisa meresmikan beberapa gedung dan satu unit mobil operasional. Terima kasih untuk semua yang telah bekerja keras,” tutupnya.
Susi Petronela Jitmau (Direktur RS. Sele Be Solu)
Diwaktu yang sama Direktur Rumah Sakit Sele Be Solu, Susi Petronela Jitmau, menyampaikan bahwa tahun 2026 menjadi momen penting bagi peningkatan layanan kesehatan di rumah sakit Sele Be Solu. Sejumlah pekerjaan rumah yang tertunda pada tahun-tahun sebelumnya kini berhasil direalisasikan sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat.
“Hari ini, puji Tuhan, hari yang baik bagi kami Rumah Sakit Sele Be Solu, karena beberapa PR dan masalah yang harus kami selesaikan di tahun-tahun sebelumnya, hari ini bisa terealisasi di tahun 2026,” ujar Susi.
Salah satu capaian utama adalah penambahan gedung kelas rawat inap standar dengan kapasitas 64 tempat tidur, yang meningkatkan total kapasitas tempat tidur dari 154 menjadi 180 unit.
Selain penambahan gedung, RS Sele Be Solu juga melengkapi fasilitas penunjang pelayanan kesehatan, khususnya pada Unit Transfusi Darah Rumah Sakit (UTDRS). Susi menjelaskan, status UTDRS yang sebelumnya Pratama kini resmi ditingkatkan menjadi Madya setelah memperoleh izin dari Kementerian Kesehatan.
“Dengan status Madya, kapasitas pelayanan dan alat kesehatan di unit pengelolaan darah juga ikut bertambah,” katanya.
Sebagai rumah sakit yang berada di ibu kota Provinsi, RS Sele Be Solu turut menyiapkan dua ruang rawat inap VIP untuk tamu dan pasien tertentu. Meski demikian, Susi menegaskan pelayanan bagi masyarakat umum tetap menjadi prioritas.
“Selain ruang VIP, kami juga menyediakan ruang kelas standar untuk masyarakat menengah ke bawah, jadi pelayanannya tetap berimbang,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengadaan sarana dan prasarana rumah sakit didukung oleh berbagai sumber pendanaan. “Ada 17 item alat kesehatan yang kami dapatkan dari dana Otsus, APBD Provinsi, dan APBD Kota,” ungkap Susi.
Dukungan ini dinilai sangat membantu dalam memperkuat kualitas pelayanan medis di rumah sakit daerah.
Terkait kebijakan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS), Susi mengatakan RS Sele Be Solu telah melakukan persiapan sesuai regulasi Kementerian Kesehatan. “Instruksi ini mewajibkan satu ruangan maksimal empat tempat tidur, tujuannya untuk meningkatkan kualitas, kenyamanan, dan keselamatan pasien,” ujarnya.
Gedung baru dengan 64 tempat tidur menjadi bagian dari pemenuhan kewajiban rumah sakit daerah untuk menyediakan minimal 60 persen ruang rawat inap standar.
Susi berharap peningkatan fasilitas ini dapat menunjang kinerja sekitar 30 dokter spesialis diantaranya dua subspesialis yang bertugas di RS Sele Be Solu. “Harapan kami, dokter-dokter bisa bekerja dengan tenang di Papua dengan peralatan yang lengkap, setara dengan rumah sakit di pusat,” tuturnya.
Ia juga berharap adanya perhatian dari pemerintah Provinsi dan pemerintah kota terhadap kesejahteraan dokter serta tenaga kesehatan, mengingat besarnya beban kerja rumah sakit sebagai rujukan di tingkat Provinsi.