RAJA AMPAT, Melanesiatimes.com – Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat Daya, agendakan dua program besar dalam waktu dekat.
Hal tersebut disampaikan Kepala BLUD KKP Raja Ampat, Hasan Makassar, saat ditemui di ruangan Kantornya, Selasa (7/4/2026).
Dalam Konferensi Persnya, Hasan Makassar, menerangkan terkait dua program BLUD UPTD KKP Raja Ampat yang berfokus pada penguatan pengelolaan kawasan konservasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal serta memastikan kondisi terumbu karang di wilayah Raja Ampat tetap pada kondisi normal.
Program pertama dimulai dengan pemetaan partisipatif atau review zonasi kawasan konservasi. Melalui pendekatan persuasif, BLUD menghimpun informasi sebanyak mungkin dari masyarakat yang tinggal di daerah pesisir Raja Ampat.
“Data dari masyarakat akan menjadi dasar pembagian zonasi yang kemudian dituangkan dalam peta. Dari situ akan ditentukan kawasan yang bisa dikelola oleh masyarakat sesuai kondisi dan kebutuhan lokal,” jelas Hasan.
Dalam pemetaan ini, BLUD juga bakal menetapkan zona produksi yang bertugas sebagai area perlindungan ekosistem. Areal ini menjadi tempat berkembang biaknya ikan, terumbu karang, dan biota laut, sehingga tidak dibolehkan adanya aktivitas pemanfaatan.
Aspek terpenting dari program ini Hasan Makassar menyampaikan terkait pemetaan ekonomi masyarakat lokal. Dengan data tersebut, BLUD dapat meninjau ulang pemanfaatan kawasan agar lebih optimal, baik untuk sektor pariwisata maupun kelautan dan perikanan.
Selain itu, program selanjutnya adalah “Manta Tao”, yaitu kegiatan monitoring terumbu karang yang akan dilaksanakan di seluruh wilayah Kepulauan Raja Ampat, mulai dari Misool hingga Ayau. Program kedua ini turut melibatkan sekitar 40 orang dari yayasan konservasi .
“Monitoring ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terumbu karang, apakah masih sehat atau sudah mengalami kerusakan. Semua akan diteliti secara menyeluruh,” ujarnya.
Selain dua program tersebut, BLUD Raja Ampat juga mengagendakan pemasangan Moringboy sebagai bagian dari prioritas sekaligus pemantauan terhadap aktivitas kapal wisata di Kawasan Konservasi.