
Ketika politik gagasan diselimuti polusi informasi.
Merebaknya penggunaan media sosial diiringi dengan tsunami informasi di era masyarakat informasi (information society) saat ini yang, dalam banyak hal, masyarakat pun tak mampu memverifikasi dan memvalidasi kebenarannya. Akhirnya disinformasi dan bahkan informasi palsu (hoax) pun tak bisa dihindarkan kerap justru mencemari ruang-ruang publik. Atau apa yang saya istilahkan sendiri sebagai polusi informasi. Kita tak jarang melihat atau menyaksikan sendiri perpecahan yang sengaja diciptakan di ruang-ruang maya (media sosial) yang didahului oleh disebarluaskannya hoax itu sendiri. Runyamnya, kondisi seperti ini bahkan ikut direproduksi sebagai semacam gunjingan politik oleh para politikus kita sendiri. Sesuatu yang sebenarnya sudah lazim di negeri ini, terutama dalam dinamika pemilu.
Oleh sebabnya, menurut saya, literasi digital menjadi kebutuhan mendesak yang harus terus diperkuat di saat politik gagasan mulai dimanipulir oleh kelompok-kelompok tertentu yang ditandai oleh munculnya bentuk-bentuk destruksi dalam pola pembangunan demokrasi politik kita seperti mereproduksi hoax sebagai alat propaganda politik yang kerap memenuhi ruang-ruang atau platform media sosial kita menjelang pada pemilu 2024. Literasi digital ini tentu dibutuhkan secara praktis, salah satunya sebagai sebuah upaya bersama mengurangi bahkan meniadakan polusi-polusi informasi yang tidak menyehatkan itu.
Kita tentu sama-sama menghendaki sebuah kehidupan di atas tatanan demokrasi yang sehat dan bermartabat. Untuk itu, upaya untuk terus menghidupkan politik gagasan dengan cara menjaga jagad media sosial kita dari polusi informasi merupakan sesuatu yang wajib ditunaikan. Sedangkan upaya atau respons yang tepat untuk menjawab hal tersebut ialah melalui pemahaman yang mumpuni dan berdampak secara praktis terhadap literasi digital itu sendiri.
Saya hendak menyudahi catatan sederhana ini dengan mengutip salah satu ungkapan Naomi Klein, seorang penulis asal Kanada itu, bahwa: demokrasi bukan hanya hak untuk memilih, tetapi demokrasi adalah hak untuk hidup bermartabat.
Sembari terus bergerak dalam kesunyataan akal sehat kita masing-masing dan berharap bahwa demokrasi politik kita akan berangsung pulih dari terjangan polusi informasi. Disegarkan kembali dengan embusan sejuk politik gagasan. Sekian!