Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Kelompok Tani (Poktan) Sidodadi di Kelurahan Klaru, Distrik Mariat, kini tengah memperketat pengawasan lahan setelah ditemukannya serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada sejumlah areal persawahan. Rabu (1/4/2026).
Meski secara umum kondisi sawah di wilayah tersebut masih tergolong aman, serangan mendadak ini memberikan dampak signifikan pada petak-petak yang ditanami varietas padi ketan. Kondisi tersebut menjadi alarm bagi petani maupun petugas lapangan.
Tanaman padi ketan yang sebelumnya tampak subur, mendadak mengalami penurunan kualitas secara drastis saat memasuki fase krusial (generatif), yakni tahap pengisian bulir padi.
Kepala Laboratorium Hama Penyakit Tanaman (LPHP) Provinsi Papua Barat Daya, Sutardi, SP., M.Pd., menegaskan bahwa kondisi ini memerlukan perhatian serius, mengingat populasi Wereng Batang Coklat (WBC) atau Nilaparvata lugens di wilayah tersebut telah bersifat endemis.
“Keberadaan satu atau dua ekor per rumpun saja sebenarnya sudah membutuhkan penanganan cepat, apalagi pada jenis padi yang rentan. Data lapangan menunjukkan peningkatan populasi hama pada titik plot tertentu sudah melewati ambang batas ekonomi,” ujarnya.
Ia menambahkan, serangan yang terjadi semakin kompleks karena dibarengi dengan munculnya hama putih dan penggerek batang dalam waktu bersamaan.
Sementara itu, Kepala Brigade Hama dan Penyakit, Wahyudi, SP., MP., memastikan pihaknya telah melakukan langkah cepat guna mencegah penyebaran serangan ke area lain.
“Fokus kami saat ini adalah isolasi serangan dan evaluasi mendalam untuk pola tanam ke depan. Meski varietas padi lain masih aman, penanganan WBC merupakan prioritas nasional yang membutuhkan perlakuan khusus,” tuturnya.
Fenomena yang menyasar padi ketan ini juga mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi. Dr. Ajang Maruapey, SP., MP., pemerhati pertanian padi dari Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN), mengaku terkejut dengan cepatnya pola serangan.
“Hanya dalam waktu dua hari saja, wereng batang coklat (WBC) dan bakteri Xanthomonas langsung menyerang plot padi ketan pada fase paling rentan. Untungnya, tindakan preventif segera dilakukan sehingga varietas padi lainnya di lokasi sekitar masih dapat diselamatkan dan tidak ikut terpapar,” ungkapnya.
Lebih lanjut, alumnus S3 Universitas Padjadjaran Bandung ini mengingatkan pentingnya kesiapan menghadapi anomali cuaca ke depan. Dengan prediksi kemarau panjang sepanjang tahun 2026, langkah strategis untuk menjaga ketahanan pangan dinilai tidak bisa ditunda.
Ia menyebutkan tiga langkah penting yang perlu segera dilakukan, yakni modernisasi fasilitas pertanian melalui perbaikan irigasi dan penguatan pompanisasi, memastikan kepastian suplai air di sentra produksi, serta mendorong penggunaan varietas benih unggul yang tahan terhadap kekeringan dan serangan hama endemis.
Ketua Poktan Sidodadi, De Saiman, mengapresiasi gerak cepat petugas dan akademisi yang turun langsung mendampingi petani.
“Kami merasa lega karena serangan ini bisa segera dilokalisasi sehingga tidak menyebar ke jenis padi lain. Kehadiran Bapak Dosen Amar dan petugas POPT di lapangan sangat menenangkan kami,” ujarnya.
Hingga saat ini, pemantauan berkala terus dilakukan guna memastikan lahan pertanian di Kabupaten Sorong tetap produktif dan terhindar dari penyebaran OPT lebih luas.