Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Organisasi Profesi Tenaga Kesehatan se-Provinsi Papua Barat Daya mengecam keras aksi pembunuhan terhadap satu tenaga kesehatan dan satu warga sipil di Kabupaten Tambrauw yang diduga dilakukan oleh orang tak dikenal (OTK). Rabu (18/3/2026).
Peristiwa tragis tersebut memicu keprihatinan mendalam sekaligus reaksi tegas dari komunitas tenaga kesehatan di Provinsi Papua Barat Daya.
Perwakilan organisasi Profesi Tenaga Kesehatan Se-provinsi Papua Barat Daya, dr. Felix Duwit, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas wafatnya 1 tenaga kesehatan dan 1 warga sipil yang dinilai telah gugur saat menjalankan tugas kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi pukulan berat bagi seluruh insan kesehatan di Papua Barat Daya.
“Ini bukan hanya kehilangan bagi keluarga korban, tetapi juga bagi kami semua sebagai sesama tenaga kesehatan yang mengabdi di daerah dengan risiko tinggi,” ujarnya.
Dalam pernyataan sikap resminya, organisasi profesi tenaga kesehatan menyampaikan tujuh poin penting sebagai berikut:
- Menyatakan duka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya 2 warga di Kabupaten Tambrauw.
- Menilai peristiwa ini sebagai pukulan berat bagi seluruh komunitas tenaga kesehatan di Papua Barat Daya.
- Mengutuk keras segala bentuk kekerasan, intimidasi, dan tindakan anarkis terhadap tenaga kesehatan yang menjalankan tugas kemanusiaan, khususnya di wilayah terpencil.
- Meminta Pemerintah Kabupaten Tambrauw, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, serta aparat keamanan TNI-Polri untuk memberikan jaminan keamanan yang nyata bagi tenaga kesehatan.
- Mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus tersebut, termasuk mengungkap motif dan menangkap pelaku untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.
- Akan melakukan evaluasi penempatan tenaga kesehatan di daerah konflik, termasuk kemungkinan relokasi jika kondisi keamanan tidak terjamin.
- Menegaskan bahwa peristiwa ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga berpengaruh terhadap sistem pelayanan kesehatan dan akses masyarakat di Papua Barat Daya.
“Ini bukan hanya persoalan individu, tetapi sudah menyangkut keberlangsungan pelayanan kesehatan bagi masyarakat luas,” tegas pernyataan tersebut.
Dr. Velix Duwit Membacakan Pernyataan sikap di depan Wakil Gubernur Papua Barat Daya
Organisasi juga menegaskan komitmennya untuk tidak tinggal diam apabila keselamatan tenaga kesehatan terus terancam. Pernyataan ini disebut sebagai bentuk solidaritas sekaligus upaya menjaga marwah profesi.
Sementara itu, Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau, turut menyampaikan duka cita atas peristiwa tersebut. Ia menyebut pembunuhan terhadap satu tenaga kesehatan dan satu warga sipil, yakni Yeremia Slobu dan Edwin, sebagai tindakan biadab yang mencoreng nilai kemanusiaan.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, kami menyampaikan duka cita yang mendalam. Ini adalah peristiwa tragis yang mencoreng rasa kemanusiaan kita,” ungkapnya.
Dari pernyataan sikap tersebut di terima langsung oleh Wakil Gubernur Papua Barat Daya dan akan menyampaikan kepada Gubernur, Elisa Kambu untuk ditindaklanjuti.
Ia menegaskan bahwa pemerintah provinsi tidak tinggal diam dan telah mengambil langkah cepat dengan menggelar rapat bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), TNI-Polri, serta DPR guna membahas situasi keamanan di Kabupaten Tambrauw.
“Kami langsung mengumpulkan Forkopimda, TNI-Polri, dan DPR untuk membahas secara serius kondisi di Tambrauw serta langkah-langkah penanganannya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ahmad Nausrau mengatakan bahwa pemerintah juga melibatkan Pemerintah Kabupaten Tambrauw, Polres, dan Dandim setempat melalui pertemuan virtual guna memastikan informasi yang diterima akurat dan langkah penanganan tepat sasaran.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan kondisi riil di lapangan, sehingga penanganannya bisa efektif,” katanya.
Ia juga mengungkapkan keprihatinannya karena dalam kurun waktu yang berdekatan terjadi lebih dari satu kasus kekerasan di wilayah yang sama, termasuk pembunuhan terhadap seorang pegawai honorer sebelumnya.
“Dalam satu pekan, terjadi dua peristiwa kekerasan di lokasi yang sama. Ini tentu menjadi perhatian serius bagi kami semua,” tegasnya.
Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, lanjutnya, berkomitmen untuk meningkatkan pengamanan di wilayah rawan serta menjamin keselamatan tenaga kesehatan agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan.
“Kami berkomitmen menghadirkan rasa aman, terutama bagi tenaga kesehatan yang bertugas di daerah terpencil. Mereka adalah garda terdepan pelayanan kemanusiaan,” pungkasnya.