RAJA AMPAT, MELANESIATIMES.COM — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap di wilayah Papua Barat Daya berdampak terhadap kunjungan wisatawan ke Kabupaten Raja Ampat. Kondisi tersebut turut memengaruhi momentum Oktober yang biasanya menjadi salah satu periode ramai kunjungan wisatawan.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat, Klasina D. Rumbekwan, mengatakan jumlah kunjungan wisatawan pada Oktober belum menunjukkan peningkatan sebagaimana yang diharapkan. Namun, pihaknya belum menghitung secara pasti persentase penurunan kunjungan dibandingkan bulan sebelumnya.
“Kalau dibandingkan dengan bulan ini, sebenarnya bulan ini hampir sama. Ini sudah mau akhir bulan, sebenarnya sudah harus lebih tinggi. Tetapi kebakaran ini menyebabkan pengaruh yang besar terhadap tingkat kunjungan wisatawan,” kata Klasina saat diwawancarai dalam rangkaian Festival Pesona Raja Ampat 2026.
Menurutnya, dampak kabut asap tidak hanya dirasakan pada kegiatan festival, tetapi juga pada perjalanan wisatawan. Penundaan hingga pembatalan penerbangan turut memengaruhi kedatangan pengunjung ke destinasi wisata unggulan Papua Barat Daya tersebut.
Ia menjelaskan, promosi Festival Pesona Raja Ampat 2026 juga belum dapat dilakukan secara maksimal karena kepastian anggaran dan sejumlah persoalan internal. Promosi baru dapat ditingkatkan setelah terdapat kepastian, dengan dukungan media, media sosial, dan Kementerian Pariwisata.
“Promosi tidak sampai satu bulan. Ada beberapa hal yang menyebabkan kami belum berani melakukan promosi terkait anggaran. Kalau sudah ada kepastian, kami langsung promosi,” ujarnya.
Di tengah tantangan tersebut, Festival Pesona Raja Ampat 2026 menghadirkan sekitar 20 stan dengan jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang ditargetkan mendekati 40 peserta.
Klasina menyebutkan, tidak seluruh UMKM yang telah mendaftar hadir membawa produk usahanya. Ia mencontohkan peserta dari Merauke yang telah mendaftar, tetapi perwakilan yang datang tidak membawa pelaku UMKM sebagaimana direncanakan.
Festival ini diharapkan tetap menjadi ruang promosi produk lokal sekaligus memperluas peluang pemasaran bagi pelaku usaha di Raja Ampat.
Selain kegiatan promosi pariwisata dan UMKM, peningkatan layanan bagi wisatawan mancanegara menjadi salah satu agenda penting melalui pembukaan layanan penukaran valuta asing atau money changer di Bank Papua.
1 / 1
Tonton Juga Serial Pendek
👇👇👇
🖤Lagu Viral Pesta Babi**🖤
Klasina menyambut baik layanan tersebut karena selama ini wisatawan asing mengalami kesulitan menukarkan mata uang asing ke rupiah di Raja Ampat. Menurutnya, layanan penukaran yang tersedia sebelumnya belum dapat diandalkan secara konsisten.
“Kami sangat bersyukur karena penukaran valuta asing ini sudah ada. Ini sangat penting untuk membantu wisatawan asing yang selama ini kesulitan mencari tempat menukar uang,” katanya.
Ia menjelaskan, ketersediaan rupiah sangat dibutuhkan wisatawan ketika berkunjung ke kampung-kampung, terutama untuk membayar jasa transportasi perahu, kegiatan menyelam (diving), serta membeli hasil usaha masyarakat setempat.
Menurut Klasina, transaksi menggunakan mata uang asing selama ini menjadi kendala bagi wisatawan yang ingin berbelanja langsung di kampung-kampung, sebab masyarakat setempat umumnya membutuhkan pembayaran dalam rupiah.
Karena itu, ia berharap layanan penukaran valuta asing dapat diperluas hingga kawasan pelabuhan. Saat ini, layanan tersebut baru tersedia di kantor Bank Papua, sedangkan di pelabuhan baru terdapat fasilitas ATM.
“Kami meminta kalau bisa ada satu konter kecil di pelabuhan, supaya wisatawan bisa langsung menukar uang. Dengan begitu, ketika mereka pergi ke kampung, mereka sudah memegang rupiah dan bisa berbelanja di sana,” ujarnya.
Klasina menilai layanan penukaran valuta asing tidak hanya mempermudah wisatawan, tetapi juga berpotensi mendorong perputaran ekonomi masyarakat di destinasi wisata.
Dengan tersedianya rupiah, wisatawan mancanegara diharapkan lebih mudah membeli produk lokal dan menggunakan jasa masyarakat, termasuk ketika berkunjung ke kampung-kampung yang belum memiliki fasilitas pembayaran elektronik.
Ia berharap penguatan layanan tersebut menjadi bagian dari peningkatan kualitas pelayanan pariwisata Raja Ampat, sekaligus memperluas manfaat ekonomi sektor pariwisata agar dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
Di tengah tekanan akibat karhutla dan gangguan perjalanan, peningkatan pelayanan dasar bagi wisatawan menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga daya tarik Raja Ampat sebagai destinasi wisata internasional.